DWJ Manajement - PORTAL

Pakan Mahal-Harga Ayam Tak Stabil, Peternak Minta Ini ke Pemerintah

Oleh: DWJ-Manajement 25 Jul 2026
Pakan Mahal-Harga Ayam Tak Stabil, Peternak Minta Ini ke Pemerintah

Pakan Selangit dan Harga Ayam Tak Menentu, Peternak Rakyat Desak Pemerintah Segera Intervensi

Kenaikan harga Day Old Chick (DOC) dan pakan ternak membuat margin keuntungan peternak menipis hingga terancam gulung tikar.

JAKARTA - Sektor peternakan ayam broiler di Indonesia tengah menghadapi masa-masa sulit. Para peternak rakyat kini terjepit di antara dua tekanan besar: melonjaknya biaya produksi akibat harga pakan yang melambung tinggi serta ketidakpastian harga jual ayam di tingkat pasar yang tidak stabil. Kondisi ini jika dibiarkan terus-menerus dikhawatirkan akan memicu gelombang kebangkrutan massal di kalangan peternak skala kecil dan menengah.

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), Kusnan, mengungkapkan bahwa beban operasional yang harus ditanggung peternak saat ini sudah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Dua komponen utama biaya produksi, yakni pakan ternak dan bibit ayam atau Day Old Chick (DOC), mengalami kenaikan harga yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Jeritan Peternak: Biaya Produksi Melambung, Margin Tergerus

Menurut Kusnan, kenaikan harga pakan bukan sekadar fluktuasi musiman biasa, melainkan sebuah tren yang sangat membebani arus kas peternak. Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ayam, yang bisa mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi. Ketika harga pakan merangkak naik, otomatis harga pokok produksi (HPP) per kilogram ayam akan ikut melonjak.

Namun, masalah tidak berhenti pada biaya produksi saja. Di sisi lain, harga jual ayam di tingkat peternak justru sering kali mengalami ketidakstabilan. Terkadang harga jatuh di bawah HPP, yang berarti setiap ekor ayam yang dijual justru mendatangkan kerugian bagi peternak. Fenomena "jual rugi" ini menjadi momok menakutkan bagi peternak rakyat yang tidak memiliki cadangan modal kuat seperti perusahaan integrator besar.

Kusnan menjelaskan bahwa kondisi ini menciptakan ketimpangan ekonomi di sektor peternakan. Peternak rakyat yang mengandalkan modal mandiri harus berjuang keras mempertahankan keberlangsungan usahanya, sementara fluktuasi pasar yang tidak terprediksi membuat perencanaan bisnis menjadi mustahil dilakukan.

Faktor Penyebab Ketidakstabilan Industri Ayam

Ada beberapa faktor kompleks yang menyebabkan kondisi industri ayam broiler saat ini menjadi sangat tidak menentu. Berdasarkan pengamatan para pelaku usaha di lapangan, berikut adalah beberapa faktor utamanya:

Kenaikan Harga Bahan Baku Pakan: Ketergantungan pada bahan baku impor seperti bungkil kedelai (soybean meal) yang harganya mengikuti pasar global membuat harga pakan lokal sulit dikontrol.

Kelangkaan dan Mahalnya DOC: Harga bibit ayam atau Day Old Chick (DOC) yang tinggi membuat peternak harus merogoh kocek lebih dalam bahkan sebelum ayam mulai tumbuh.

Ketimpangan Suplai: Dominasi perusahaan integrator besar yang menguasai rantai pasok dari hulu ke hilir sering kali membuat peternak mandiri sulit mendapatkan akses pakan dan bibit dengan harga kompetitif.

Fluktuasi Harga Pasar: Mekanisme pasar yang tidak teratur sering kali menyebabkan harga ayam di tingkat konsumen tetap tinggi, namun harga di tingkat peternak justru anjlok.

Permindo Desak Pemerintah Segera Ambil Langkah Nyata

Menghadapi situasi kritis ini, Permindo meminta pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, untuk tidak tinggal diam. Peternak membutuhkan kepastian hukum dan perlindungan pasar agar usaha mereka tetap dapat berjalan.

Kusnan menegaskan bahwa intervensi pemerintah sangat diperlukan untuk menstabilkan harga bahan baku pakan dan mengatur distribusi DOC agar lebih adil bagi peternak mandiri. Menurutnya, pemerintah perlu melihat bahwa keberlangsungan peternak rakyat adalah kunci dari ketahanan pangan protein hewani nasional.

Tuntutan Utama Peternak kepada Pemerintah

Dalam berbagai kesempatan, para peternak melalui asosiasi mereka telah menyampaikan sejumlah poin mendesak yang harus segera ditindaklanjuti oleh otoritas terkait, di antaranya:

Pengendalian Harga Bahan Baku Pakan: Pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas harga bahan baku pakan ternak, baik melalui kebijakan impor yang terukur maupun penguatan produksi bahan baku lokal seperti jagung.

Regulasi Harga DOC: Perlu adanya regulasi atau pemantauan harga bibit ayam (DOC) agar tidak terjadi monopoli atau lonjakan harga yang tidak wajar yang merugikan peternak kecil.

Penetapan Harga Acuan yang Adil: Pemerintah perlu menetapkan harga pembelian di tingkat peternak (floor price) agar peternak tidak terus-menerus mengalami kerugian saat harga pasar jatuh di bawah biaya produksi.

Pengawasan terhadap Perusahaan Integrator: Diperlukan pengawasan ketat terhadap praktik persaingan usaha tidak sehat, guna memastikan peternak mandiri tetap memiliki ruang gerak dalam ekosistem industri perunggasan.

Dampak Luas bagi Konsumen dan Inflasi Nasional

Persoalan peternak ayam ini bukan hanya masalah internal pelaku usaha, melainkan juga masalah ekonomi makro. Ayam merupakan salah satu sumber protein hewani paling terjangkau bagi masyarakat luas di Indonesia. Jika produksi ayam terganggu akibat banyaknya peternak yang gulung tikar, maka pasokan daging ayam di pasar akan berkurang.

Berkurangnya pasokan secara otomatis akan memicu lonjakan harga daging ayam di tingkat konsumen. Hal ini tentu akan berkontribusi pada peningkatan angka inflasi pangan. Oleh karena itu, menjaga stabilitas industri peternakan ayam secara langsung berarti menjaga stabilitas daya beli masyarakat dan mengendalikan laju inflasi nasional.

Para ahli ekonomi juga mengingatkan bahwa ketidakstabilan harga pangan, terutama protein, dapat berdampak pada isu kesehatan jangka panjang, seperti meningkatnya risiko stunting jika masyarakat kesulitan mengakses sumber protein yang terjangkau akibat harga yang melambung tinggi.

Kesimpulan

Krisis yang dialami oleh peternak ayam saat ini merupakan sinyal merah bagi ketahanan pangan nasional. Tekanan ganda dari mahalnya harga pakan dan DOC, serta tidak stabilnya harga jual ayam, telah menempatkan peternak rakyat dalam posisi yang sangat rentan. Tanpa adanya intervensi strategis dari pemerintah—baik melalui regulasi harga bahan baku, pengendalian harga bibit, maupun penetapan harga acuan yang adil—sektor peternakan mandiri terancam mengalami kemunduran permanen. Stabilitas industri perunggasan adalah kunci untuk menjaga keseimbangan antara kesejahteraan peternak, keterjangkauan harga bagi konsumen, dan stabilitas ekonomi nasional.

Menampilkan Seluruh Artikel