DWJ Manajement - PORTAL

Pakar Ungkap Penyebab Malam Lebih Dingin Saat Kemarau

Oleh: DWJ-Manajement 24 Jul 2026
Pakar Ungkap Penyebab Malam Lebih Dingin Saat Kemarau

Fenomena Bediding: Mengapa Suhu Malam Hari Terasa Jauh Lebih Dingin Saat Musim Kemarau?

Banyak masyarakat, terutama di Pulau Jawa, merasakan penurunan suhu yang signifikan pada malam hingga dini hari. Pakar menjelaskan bahwa fenomena ini adalah proses alami yang dikenal sebagai 'bediding'.

Mengenal Fenomena Bediding yang Melanda Indonesia

Belakangan ini, banyak warga di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, mengeluhkan suhu udara yang terasa jauh lebih dingin dari biasanya saat memasuki malam hari. Kondisi ini sering kali membuat masyarakat harus menggunakan pakaian yang lebih tebal atau menggunakan selimut tambahan untuk menjaga kehangatan tubuh saat tidur.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, fenomena penurunan suhu di tengah musim kemarau ini dikenal dengan istilah "bediding". Istilah ini merujuk pada kondisi suhu udara yang turun secara drastis, terutama pada malam hari dan menjelang subuh, meskipun matahari di siang hari mungkin terasa sangat terik.

Fenomena ini bukanlah hal yang baru, namun intensitasnya bisa berbeda-beda setiap tahunnya tergantung pada kondisi atmosfer dan pola angin yang sedang berlangsung. Secara meteorologis, kondisi ini merupakan bagian dari siklus musim kemarau yang normal, namun tetap memerlukan perhatian karena dampaknya terhadap kenyamanan dan kesehatan masyarakat.

Mengapa Udara Malam Menjadi Sangat Dingin?

Banyak orang bertanya-tanya, mengapa saat musim kemarau yang identik dengan panas, suhu malam hari justru bisa menjadi sangat dingin? Mengapa tidak terjadi sebaliknya? Untuk menjawab ini, kita perlu memahami mekanisme pelepasan panas bumi ke atmosfer.

Proses Radiasi Terestrial dan Peran Awan

Penyebab utama dari rasa dingin yang ekstrem ini adalah proses yang disebut dengan radiasi terestrial. Pada siang hari, permukaan bumi menyerap energi matahari yang sangat besar. Panas ini kemudian disimpan oleh tanah, air, dan bangunan.

Saat matahari terbenam, bumi mulai melepaskan kembali energi panas tersebut ke luar angkasa dalam bentuk radiasi inframerah. Di sinilah peran awan menjadi sangat krusial. Pada musim hujan, langit biasanya tertutup awan. Awan ini berfungsi layaknya "selimut" raksasa yang memerangkap panas bumi agar tidak langsung lepas ke luar angkasa. Akibatnya, suhu malam hari tetap relatif hangat.

Namun, pada musim kemarau, langit cenderung sangat cerah dengan sedikit atau bahkan tanpa awan sama sekali. Tanpa adanya "selimut" awan ini, panas yang dilepaskan oleh permukaan bumi pada malam hari langsung melesat menuju atmosfer atas dan ruang angkasa tanpa hambatan. Inilah yang menyebabkan suhu di permukaan bumi turun dengan sangat cepat dan mencapai titik terendah pada dini hari.

Pengaruh Kelembapan Udara yang Rendah