DWJ Manajement - PORTAL

Pakar Ungkap Penyebab Malam Lebih Dingin Saat Kemarau

Oleh: DWJ-Manajement 24 Jul 2026
Pakar Ungkap Penyebab Malam Lebih Dingin Saat Kemarau

Selain faktor awan, rendahnya tingkat kelembapan udara juga memegang peranan penting. Pada musim kemarau, kadar uap air di udara sangat sedikit. Uap air memiliki kemampuan untuk menahan panas (efek rumah kaca alami). Ketika udara sangat kering, kemampuan atmosfer untuk menahan panas menjadi sangat minim, sehingga suhu udara dapat merosot tajam dalam waktu singkat setelah matahari terbenam.

Peran Angin Monsun Australia

Selain faktor radiasi, fenomena bediding juga dipengaruhi oleh pergerakan massa udara berskala besar. Selama musim kemarau di Indonesia, terjadi dominasi Angin Monsun Australia yang bertiup dari arah benua Australia menuju Asia, melewati Indonesia.

Benua Australia saat ini sedang mengalami musim dingin. Angin yang bertiup dari Australia ini membawa massa udara yang bersifat kering dan dingin menuju wilayah Indonesia. Ketika massa udara dingin ini masuk ke wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, suhu udara akan mengalami penurunan yang cukup terasa.

Interaksi antara massa udara kering dari Australia dengan kondisi langit yang cerah tanpa awan menciptakan kombinasi sempurna yang menghasilkan suhu udara yang sangat rendah di malam hari. Hal inilah yang menjelaskan mengapa fenomena ini terasa lebih kuat di wilayah bagian selatan Indonesia dibandingkan dengan wilayah utara.

Dampak Fenomena Bediding bagi Kesehatan

Meskipun merupakan fenomena alam yang normal, perubahan suhu yang drastis antara siang yang panas dan malam yang dingin dapat memberikan dampak pada kesehatan manusia. Perubahan suhu yang ekstrem memaksa tubuh untuk melakukan adaptasi termal secara cepat.

Beberapa risiko kesehatan yang perlu diwaspadai antara lain:

Gangguan Pernapasan: Udara dingin dan kering dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan, yang berisiko memperparah kondisi penderita asma atau bronkitis.

Penurunan Sistem Imun: Perubahan suhu yang mendadak dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan menurunkan daya tahan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap serangan virus flu atau batuk.

Masalah Kulit: Rendahnya kelembapan udara menyebabkan kulit kehilangan kadar air lebih cepat, yang sering kali memicu kulit kering, pecah-pecah, hingga gatal-gatal.

Nyeri Sendi: Bagi lansia atau penderita rematik, suhu dingin yang ekstrem sering kali memicu rasa nyeri pada persendian.