DWJ Manajement - PORTAL

Pasar Sukapura Bertahan di Tengah Bangunan yang Memprihatinkan

Oleh: DWJ-Manajement 04 Sep 2026
Pasar Sukapura Bertahan di Tengah Bangunan yang Memprihatinkan

Atap Bocor dan Lapuk: Saat hujan turun, sebagian besar area pasar menjadi basah akibat atap yang tidak lagi mampu menahan air. Hal ini menyebabkan lantai menjadi licin dan mengganggu kenyamanan transaksi.

Lantai yang Rusak dan Tidak Rata: Banyak bagian lantai yang pecah atau berlubang, yang sangat berisiko menyebabkan pembeli atau pedagang terpeleset, terutama di area basah seperti los ikan dan daging.

Sistem Drainase yang Buruk: Saluran pembuangan yang tersumbat menyebabkan genangan air di beberapa sudut pasar, memicu aroma tidak sedap dan menjadi sarang penyakit.

Dinding yang Berlumut dan Lembap: Kondisi dinding yang lembap menunjukkan sirkulasi udara dan sanitasi yang kurang baik, menambah kesan kumuh pada pasar.

Resiliensi Pedagang: "Yang Penting Tetap Laris"

Bagi para pedagang, mengeluhkan kondisi bangunan bukanlah prioritas utama. Fokus mereka adalah bagaimana barang dagangan bisa habis terjual hari ini. "Kami sudah biasa dengan kondisi begini. Kalau hujan, ya kami siapkan plastik atau kain penutup. Yang penting pembeli masih datang dan dagangan bisa laku," ujar salah satu pedagang sembako yang sudah berjualan selama lebih dari sepuluh tahun di Pasar Sukapura.

Mentalitas bertahan hidup ini menunjukkan betapa kuatnya ekosistem ekonomi mikro di Jakarta. Namun, pernyataan tersebut juga menyiratkan kepasrahan. Ada semacam normalisasi terhadap kondisi yang tidak layak, karena mereka merasa tidak memiliki pilihan lain. Pindah ke tempat lain berarti kehilangan pelanggan setia, sementara bertahan di sini berarti harus berhadapan dengan risiko keselamatan setiap harinya.

Ketimpangan antara peran penting pasar ini sebagai penopang ekonomi dengan kualitas fasilitas yang disediakan pemerintah setempat menciptakan sebuah paradoks. Pasar yang seharusnya menjadi tempat yang bersih, aman, dan nyaman, justru berubah menjadi tempat yang penuh risiko bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Dilema Pembeli: Harga Murah vs Kenyamanan