Bertahan di Balik Atap Bocor: Potret Perjuangan Ekonomi di Pasar Sukapura yang Memprihatinkan
Jakarta Utara – Di tengah deru mesin kendaraan dan hiruk pikuk kawasan Cilincing, Jakarta Utara, sebuah denyut ekonomi tetap berdetak kencang meskipun dibayangi oleh kondisi infrastruktur yang kian memprihatinkan. Pasar Sukapura, salah satu pusat perputaran uang bagi warga lokal, kini menjadi saksi bisu bagaimana pedagang dan pembeli harus berkompromi dengan kerusakan bangunan demi memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Pasar ini bukan sekadar tempat transaksi jual beli, melainkan urat nadi bagi ribuan warga di sekitarnya. Namun, jika menilik kondisi fisiknya, pemandangan yang tersaji jauh dari kata layak. Kerusakan di berbagai sudut bangunan seolah menjadi pemandangan harian yang harus diterima dengan lapang dada oleh para pelaku ekonomi di sana.
Denyut Ekonomi di Tengah Infrastruktur yang Usang
Meskipun kondisi bangunan menunjukkan tanda-tanda penuaan yang ekstrem, aktivitas perdagangan di Pasar Sukapura tidak pernah surut. Sejak fajar menyingsing, lorong-lorong pasar sudah dipadati oleh pedagang sayur, daging, ikan, hingga bumbu dapur. Interaksi tawar-menawar tetap terjadi dengan riuh, menciptakan suasana khas pasar tradisional yang tidak bisa ditemukan di supermarket modern.
Kondisi bangunan yang rusak, mulai dari atap yang bocor hingga lantai yang retak, tidak lantas menghentikan langkah para pembeli. Bagi warga Cilincing dan sekitarnya, faktor harga yang terjangkau dan kemudahan akses menjadi alasan utama mengapa mereka tetap setia berbelanja di sini. Mereka seolah telah terbiasasi dengan ketidaknyamanan fisik demi menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.
Namun, di balik ketangguhan para pedagang ini, tersimpan sebuah ancaman nyata. Infrastruktur yang tidak terawat bukan hanya masalah estetika, melainkan masalah keselamatan publik. Bangunan yang rapuh dapat sewaktu-waktu membahayakan nyawa orang-orang yang beraktivitas di dalamnya, terutama saat cuaca ekstrem melanda Jakarta Utara.
Daftar Kerusakan yang Menjadi Keluhan Utama
Berdasarkan pengamatan di lapangan, terdapat beberapa titik krusial yang memerlukan perhatian mendesak dari pihak terkait. Kerusakan ini bukan hanya sekadar kerusakan kecil, melainkan masalah struktural yang sudah berlangsung lama. Beberapa di antaranya meliputi:
Atap Bocor dan Lapuk: Saat hujan turun, sebagian besar area pasar menjadi basah akibat atap yang tidak lagi mampu menahan air. Hal ini menyebabkan lantai menjadi licin dan mengganggu kenyamanan transaksi.
Lantai yang Rusak dan Tidak Rata: Banyak bagian lantai yang pecah atau berlubang, yang sangat berisiko menyebabkan pembeli atau pedagang terpeleset, terutama di area basah seperti los ikan dan daging.
Sistem Drainase yang Buruk: Saluran pembuangan yang tersumbat menyebabkan genangan air di beberapa sudut pasar, memicu aroma tidak sedap dan menjadi sarang penyakit.
Dinding yang Berlumut dan Lembap: Kondisi dinding yang lembap menunjukkan sirkulasi udara dan sanitasi yang kurang baik, menambah kesan kumuh pada pasar.
Resiliensi Pedagang: "Yang Penting Tetap Laris"
Bagi para pedagang, mengeluhkan kondisi bangunan bukanlah prioritas utama. Fokus mereka adalah bagaimana barang dagangan bisa habis terjual hari ini. "Kami sudah biasa dengan kondisi begini. Kalau hujan, ya kami siapkan plastik atau kain penutup. Yang penting pembeli masih datang dan dagangan bisa laku," ujar salah satu pedagang sembako yang sudah berjualan selama lebih dari sepuluh tahun di Pasar Sukapura.
Mentalitas bertahan hidup ini menunjukkan betapa kuatnya ekosistem ekonomi mikro di Jakarta. Namun, pernyataan tersebut juga menyiratkan kepasrahan. Ada semacam normalisasi terhadap kondisi yang tidak layak, karena mereka merasa tidak memiliki pilihan lain. Pindah ke tempat lain berarti kehilangan pelanggan setia, sementara bertahan di sini berarti harus berhadapan dengan risiko keselamatan setiap harinya.
Ketimpangan antara peran penting pasar ini sebagai penopang ekonomi dengan kualitas fasilitas yang disediakan pemerintah setempat menciptakan sebuah paradoks. Pasar yang seharusnya menjadi tempat yang bersih, aman, dan nyaman, justru berubah menjadi tempat yang penuh risiko bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Dilema Pembeli: Harga Murah vs Kenyamanan
Di sisi lain, para pembeli juga menghadapi dilema yang serupa. Di satu sisi, mereka sangat membutuhkan Pasar Sukapura karena harga kebutuhan pokok di sini jauh lebih kompetitif dibandingkan ritel modern. Di sisi lain, rasa tidak nyaman saat berbelanja sangat terasa.
"Kadang takut kalau jalan di lantai yang retak, apalagi kalau sedang ramai-ramainya. Kalau hujan, ya waswas atapnya bocor atau ada bagian yang jatuh," ungkap seorang ibu rumah tangga yang sedang berbelanja kebutuhan dapur.
Kenyamanan pembeli sangat berpengaruh pada lama waktu mereka berada di pasar dan volume belanja mereka. Jika kondisi pasar terus memburuk, dikhawatirkan para pembeli akan mulai beralih ke tempat lain, yang pada akhirnya akan memukul ekonomi para pedagang kecil di Pasar Sukapura.
Urgensi Renovasi demi Keselamatan dan Keberlanjutan Ekonomi
Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, diperlukan langkah nyata dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun instansi terkait untuk melakukan revitalisasi atau setidaknya perbaikan darurat pada Pasar Sukapura. Revitalisasi pasar tradisional bukan hanya soal mempercantik bangunan, tetapi soal meningkatkan standar kesehatan dan keselamatan publik.
Pasar yang layak akan mampu menarik lebih banyak pengunjung, meningkatkan omzet pedagang, dan yang terpenting, menjamin keamanan jiwa masyarakat. Modernisasi pasar tradisional tidak harus menghilangkan jiwa "pasar" itu sendiri, melainkan memperkuatnya dengan fasilitas yang memadai seperti drainase yang baik, pencahayaan yang cukup, dan struktur bangunan yang kokoh.
Penanganan masalah ini tidak bisa ditunda lagi. Mengingat kepadatan aktivitas di Cilincing, Pasar Sukapura adalah aset ekonomi yang sangat berharga. Membiarkan pasar ini dalam kondisi rusak sama saja dengan membiarkan urat nadi ekonomi warga terancam putus.
Kesimpulan
Pasar Sukapura adalah simbol ketangguhan ekonomi rakyat di tengah keterbatasan infrastruktur. Meskipun aktivitas jual beli tetap berjalan dinamis, kondisi bangunan yang memprihatinkan tidak boleh dibiarkan menjadi hal yang dianggap lumrah. Kerusakan fisik seperti atap bocor, lantai rusak, dan sanitasi buruk adalah ancaman nyata bagi keselamatan pedagang dan pembeli. Diperlukan intervensi cepat dari pemerintah melalui renovasi yang menyeluruh agar pasar tradisional ini dapat terus menjalankan fungsinya sebagai penopang ekonomi masyarakat secara aman, nyaman, dan berkelanjutan.