Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM): Kesenjangan antara keahlian yang dimiliki tenaga kerja dengan kebutuhan teknologi industri modern (Industry 4.0) masih menjadi kendala besar.
Kepastian Regulasi: Investor membutuhkan kepastian hukum dan regulasi yang tidak berubah-ubah agar mereka berani melakukan investasi jangka panjang di sektor manufaktur.
Digitalisasi dan Otomasi: Kecepatan dalam mengadopsi teknologi digital akan menentukan apakah industri lokal mampu bersaing dengan produk impor yang lebih efisien.
Langkah Strategis Menuju Ekonomi 8 Persen
Melihat besarnya tantangan tersebut, diperlukan sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, dan regulasi sektor riil. Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan makro, tetapi harus masuk ke ranah mikro untuk memastikan ekosistem manufaktur berjalan optimal.
Pertama, penguatan hilirisasi industri harus terus dilakukan. Hilirisasi tidak boleh hanya terbatas pada sektor pertambangan seperti nikel, tetapi harus diperluas ke sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan. Dengan hilirisasi, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk membangun industri manufaktur yang berbasis sumber daya alam lokal.
Kedua, pemberian insentif yang tepat sasaran bagi industri yang melakukan ekspansi dan inovasi. Insentif pajak (tax holiday atau tax allowance) harus diberikan kepada perusahaan yang berkomitmen pada pengembangan teknologi tinggi dan penyerapan tenaga kerja lokal yang masif.
Ketiga, perbaikan iklim investasi melalui penyederhanaan birokrasi. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan melalui Undang-Undang Cipta Kerja, implementasi di tingkat daerah seringkali masih mengalami kendala. Kemudahan perizinan adalah harga mati untuk menarik aliran modal masuk (inflow capital) ke sektor manufaktur.
Kesimpulan
Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen adalah target yang sangat berani dan visioner. Namun, keberhasilan target tersebut sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk membangkitkan kembali sektor manufaktur. Sebagaimana ditegaskan oleh Apindo, sektor manufaktur harus menjadi motor penggerak utama dengan kontribusi PDB di angka 25-30 persen.
Tanpa penguatan di sektor industri pengolahan, Indonesia berisiko terjebak dalam pertumbuhan ekonomi yang rendah dan rentan terhadap guncangan eksternal. Oleh karena itu, revitalisasi manufaktur melalui hilirisasi, perbaikan logistik, peningkatan kualitas SDM, dan kepastian regulasi harus menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional ke depan. Manufaktur tidak boleh loyo, karena di sanalah masa depan ekonomi Indonesia dipertaruhkan.