DWJ Manajement - PORTAL

Penjualan Motor Listrik Merosot Tajam, Pengusaha Ungkap Biang Keroknya

Oleh: DWJ-Manajement 21 Sep 2026
Penjualan Motor Listrik Merosot Tajam, Pengusaha Ungkap Biang Keroknya

Pasar Kendaraan Listrik Lesu: Pengusaha Bongkar Biang Kerok Anjloknya Penjualan Motor Listrik di Indonesia

Ketua Aismoli ungkap sejumlah faktor krusial yang membuat minat masyarakat terhadap motor listrik menurun drastis di tengah ambisi besar pemerintah dalam transisi energi hijau.

Industri kendaraan listrik di Indonesia tengah menghadapi ujian berat. Setelah sempat menunjukkan tren pertumbuhan yang menjanjikan, pasar sepeda motor listrik justru mengalami kontraksi yang cukup mengkhawatirkan. Fenomena ini menjadi sinyal merah bagi para pelaku industri dan pemerintah yang selama ini gencar mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan tersebut.

Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setiyadi, secara terbuka melaporkan bahwa angka penjualan sepeda motor listrik di tanah air mengalami penurunan yang cukup tajam. Kondisi ini berbanding terbalik dengan target ambisius pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara.

Realitas Pahit di Lapangan: Penjualan yang Merosot Tajam

Berdasarkan data dan pantauan yang disampaikan oleh pihak Aismoli, tren penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan menunjukkan pola yang konsisten dalam beberapa periode terakhir. Meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai insentif, realitas di pasar menunjukkan bahwa daya serap konsumen terhadap teknologi baru ini belum mencapai titik optimal yang diharapkan.

Budi Setiyadi menekankan bahwa penurunan ini bukan sekadar angka statistik biasa, melainkan sebuah peringatan bagi ekosistem kendaraan listrik secara keseluruhan. Jika tren penurunan ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi kebijakan yang tepat, keberlangsungan industri manufaktur motor listrik lokal bisa terancam.

Para pelaku usaha kini berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka dituntut untuk terus melakukan inovasi dan memenuhi standar produksi yang ditetapkan pemerintah, namun di sisi lain, volume penjualan yang rendah membuat biaya operasional dan investasi menjadi sangat berat untuk ditanggung.

Menguak Biang Kerok: Mengapa Masyarakat Masih Ragu?

Banyak pihak bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa setelah berbagai kampanye masif dilakukan, masyarakat justru tampak enggan untuk beralih dari sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) ke motor listrik? Melalui pengamatan industri, terdapat beberapa faktor fundamental yang menjadi "biang kerok" di balik merosotnya angka penjualan ini.

1. Ketidakpastian Mengenai Infrastruktur Pengisian Daya

Salah satu hambatan psikologis terbesar bagi calon konsumen adalah range anxiety atau kecemasan akan jarak tempuh. Meskipun teknologi baterai terus berkembang, persepsi masyarakat terhadap kemudahan pengisian daya masih sangat rendah. Ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang masih terpusat di kota-kota besar menjadi kendala utama bagi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi atau mereka yang tinggal di area sub-urban.

Tanpa jaringan pengisian daya yang merata dan secepat pengisian BBM di SPBU, konsumen merasa bahwa menggunakan motor listrik adalah sebuah risiko yang dapat mengganggu produktivitas harian mereka.

2. Masalah Nilai Jual Kembali (Resale Value)

Dalam budaya otomotif di Indonesia, nilai jual kembali atau resale value merupakan pertimbangan yang sangat krusial sebelum seseorang memutuskan untuk membeli kendaraan. Motor listrik saat ini masih dianggap sebagai produk yang memiliki nilai depresiasi yang sangat tinggi.

Ketidakpastian mengenai masa pakai baterai dan sulitnya mencari suku cadang pengganti yang terstandarisasi membuat konsumen merasa bahwa uang yang mereka keluarkan untuk membeli motor listrik tidak akan kembali dalam bentuk nilai aset yang stabil di masa depan. Kekhawatiran akan biaya penggantian baterai yang mahal seringkali menjadi faktor penentu konsumen untuk tetap memilih motor konvensional.

3. Skema Subsidi yang Belum Menyentuh Seluruh Lapisan

Meskipun pemerintah telah memberikan subsidi untuk pembelian motor listrik, efektivitas subsidi ini masih menjadi perdebatan di kalangan pengusaha. Terdapat beberapa kendala administratif dan teknis yang membuat masyarakat kesulitan untuk mengakses insentif tersebut secara langsung.

Selain itu, harga jual motor listrik yang masih dianggap relatif tinggi bagi sebagian besar lapisan masyarakat Indonesia—meskipun sudah disubsidi—tetap menjadi penghalang. Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, selisih harga antara motor listrik dengan motor konvensional yang sudah sangat efisien masih dirasa terlalu lebar.

Daftar Tantangan Utama Industri Motor Listrik di Indonesia

Secara lebih mendalam, tantangan yang dihadapi oleh Aismoli dan para anggotanya dapat dirangkum dalam beberapa poin kunci berikut ini:

Kesenjangan Teknologi: Kecepatan inovasi baterai yang belum sepenuhnya mampu mengimbangi ekspektasi konsumen akan jarak tempuh yang jauh dan pengisian daya yang instan.

Ekosistem Bengkel: Minimnya jumlah bengkel umum yang memiliki keahlian dan peralatan untuk menangani kerusakan sistem elektrikal pada motor listrik.

Standarisasi Komponen: Masih adanya variasi standar komponen antar merek yang membuat integrasi ekosistem (seperti sistem tukar baterai atau battery swapping) menjadi sulit dilakukan secara masif.

Persaingan dengan Kendaraan Konvensional: Efisiensi mesin pembakaran dalam (ICE) yang semakin baik dan harga BBM yang masih relatif terjangkau membuat motor konvensional tetap menjadi pilihan yang lebih rasional bagi mayoritas warga.

Langkah Strategis: Apa yang Harus Dilakukan?

Menghadapi situasi yang tidak ideal ini, para pengusaha melalui Aismoli mendorong pemerintah untuk tidak hanya memberikan subsidi dalam bentuk uang tunai, tetapi juga membangun ekosistem yang lebih komprehensif. Diperlukan kebijakan yang lebih berpihak pada penguatan infrastruktur dan kemudahan regulasi bagi produsen lokal.

Penguatan pada sektor battery swapping station (BSS) dipandang sebagai solusi jangka pendek yang paling efektif untuk mengatasi masalah pengisian daya. Jika konsumen tidak perlu menunggu lama untuk mengisi daya, maka hambatan psikologis range anxiety dapat diminimalisir secara signifikan.

Selain itu, edukasi pasar harus terus ditingkatkan. Masyarakat perlu memahami bahwa teknologi motor listrik bukan sekadar tren sesaat, melainkan masa depan transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Transparansi mengenai masa pakai baterai dan kemudahan servis juga menjadi kunci untuk membangun kepercayaan (trust) konsumen terhadap produk listrik.

Kesimpulan

Merosotnya penjualan motor listrik di Indonesia merupakan alarm keras bagi seluruh stakeholder terkait. Penurunan ini bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi dari masalah infrastruktur, kekhawatiran akan nilai ekonomi kendaraan, hingga efektivitas kebijakan subsidi. Untuk mengembalikan kepercayaan pasar, diperlukan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah dalam penyediaan infrastruktur dan produsen dalam menghadirkan produk yang kompetitif secara teknologi maupun harga. Tanpa langkah perbaikan yang sistematis, ambisi Indonesia menjadi pemain utama kendaraan listrik global terancam hanya akan menjadi rencana di atas kertas.

Menampilkan Seluruh Artikel