DWJ Manajement - PORTAL

Petani Minta HPP Gula Naik Jadi Rp 16.875/Kg

Oleh: DWJ-Manajement 31 Jul 2026
Petani Minta HPP Gula Naik Jadi Rp 16.875/Kg

Jeritan Petani Tebu: APTRI Desak Pemerintah Naikkan HPP Gula Menjadi Rp 16.875 per Kilogram

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) secara resmi melayangkan tuntutan kepada pemerintah untuk segera meninjau ulang dan menetapkan kenaikan Harga Pokok Penjualan (HPP) gula petani. Angka yang diajukan adalah sebesar Rp 16.875 per kilogram, sebuah langkah yang dinilai krusial untuk menyelamatkan napas para petani di tengah himpitan biaya produksi yang kian tak terkendali.

Industri gula nasional tengah berada di persimpangan jalan yang kritis. Di satu sisi, pemerintah terus berupaya mengejar target swasembada gula nasional, namun di sisi lain, kesejahteraan para produsen utama gula—yakni petani tebu rakyat—justru kian tergerus. Desakan dari APTRI ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah representasi dari realitas pahit yang dihadapi petani di lapangan setiap harinya.

Akar Masalah: Lonjakan Biaya Produksi yang Tak Terbendung

Selama beberapa tahun terakhir, sektor pertanian tebu menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Masalah utama yang menjadi pemicu tuntutan kenaikan HPP ini adalah ketidakseimbangan antara harga jual tebu dengan biaya input pertanian yang terus meroket. Petani tidak lagi bisa memprediksi pengeluaran mereka dengan akurat karena fluktuasi harga kebutuhan dasar pertanian yang sangat tajam.

Beberapa faktor utama yang menyebabkan membengkaknya biaya produksi di tingkat petani antara lain:

Kenaikan Harga Pupuk dan Pestisida: Harga pupuk, baik subsidi maupun non-subsidi, mengalami tren peningkatan yang signifikan. Padahal, kualitas tebu sangat bergantung pada kecukupan nutrisi tanah melalui pemupukan yang tepat.

Biaya Tenaga Kerja: Upah tenaga kerja di sektor pertanian, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga masa panen, terus naik mengikuti inflasi nasional dan standar upah minimum.

Biaya Logistik dan Bahan Bakar: Pengangkutan tebu dari lahan menuju pabrik gula (PG) sangat bergantung pada ketersediaan BBM. Kenaikan harga bahan bakar secara langsung memukul margin keuntungan petani.

Perawatan Lahan dan Alat Mesin Pertanian: Investasi dan biaya perawatan alat mesin pertanian (alsintan) juga menjadi beban tambahan yang sering kali tidak tertutupi oleh harga jual tebu saat ini.