Menarik Investor Asing: Rating yang baik menjadi "lampu hijau" bagi investor global untuk menanamkan modalnya di suatu negara.
Menjadi Standar Global: Meskipun bersifat privat, metodologi mereka telah menjadi standar de facto dalam sistem keuangan dunia.
Ketergantungan ini menciptakan dilema bagi negara berkembang. Ketika sebuah lembaga rating menurunkan peringkat (downgrade) suatu negara, dampak domino yang terjadi bisa sangat merusak, mulai dari keluarnya modal asing secara masif hingga lonjakan biaya utang negara.
Menyoroti Bias dalam Penilaian Ekonomi
Kritik Prabowo juga menyiratkan adanya potensi bias dalam metodologi yang digunakan oleh lembaga rating. Sering kali, parameter yang digunakan oleh analis asing dianggap kurang sensitif terhadap realitas sosial-ekonomi lokal yang kompleks di negara berkembang.
Ada beberapa poin yang sering menjadi perdebatan terkait bias lembaga rating internasional:
Ketidakpahaman Konteks Lokal: Analis asing mungkin terlalu fokus pada angka-angka makro ekonomi tetapi kurang memahami dinamika stabilitas politik atau kebijakan fiskal yang bertujuan untuk kesejahteraan jangka panjang masyarakat.
Standar Ganda: Adanya persepsi bahwa negara-negara maju sering kali mendapatkan toleransi lebih besar terhadap defisit anggaran dibandingkan negara berkembang yang langsung dijatuhi sanksi rating rendah.
Sentimen Pasar: Penilaian rating sering kali dipengaruhi oleh sentimen pasar global yang bersifat volatil, yang terkadang tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya di lapangan.
Prabowo secara implisit ingin mengatakan bahwa kedaulatan ekonomi Indonesia tidak boleh disandera oleh persepsi yang mungkin saja keliru atau bias tersebut. Ia mendorong adanya kepercayaan diri nasional dalam mengelola ekonomi berdasarkan data dan kondisi riil bangsa sendiri.