DWJ Manajement - PORTAL

Purbaya Soroti Penanggulangan Bencana di NTT: Seperti Nggak Ada Koordinasi

Oleh: DWJ-Manajement 19 Aug 2026
Purbaya Soroti Penanggulangan Bencana di NTT: Seperti Nggak Ada Koordinasi

Purbaya Soroti Penanggulangan Bencana di NTT: Sebut Koordinasi Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Tidak Berjalan

Kritik keras terhadap lemahnya sinkronisasi kebijakan dalam penanganan darurat bencana di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Persoalan penanggulangan bencana di Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Kali ini, perhatian tertuju pada wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kerap menjadi daerah rawan bencana alam. Purbaya, seorang pengamat yang menaruh perhatian besar pada kebijakan publik, melontarkan kritik pedas terkait bagaimana pemerintah menangani situasi darurat di wilayah tersebut. Menurutnya, terdapat indikasi kuat bahwa proses penanggulangan bencana di NTT berjalan tanpa koordinasi yang mumpuni antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Kritik ini muncul di tengah urgensi kebutuhan masyarakat akan respons cepat dan tepat saat bencana melanda. Ketidaksiapan sistem dan lambatnya alur birokrasi dinilai menjadi penghambat utama dalam penyelamatan nyawa serta pemulihan infrastruktur pascabencana. Purbaya menekankan bahwa tanpa adanya keselarasan visi dan aksi antara Jakarta dan daerah, upaya mitigasi maupun penanganan darurat hanya akan menjadi langkah-langkah sporadis yang tidak berkelanjutan.

Lemahnya Sinkronisasi: Akar Masalah Penanganan Bencana

Dalam pernyataannya, Purbaya secara spesifik menyoroti adanya celah komunikasi yang lebar antara otoritas pusat, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Ia menilai, fenomena "jalan sendiri-sendiri" ini sering kali mengakibatkan bantuan yang datang tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.

Masalah koordinasi ini bukan sekadar masalah administratif, melainkan masalah kemanusiaan. Ketika data mengenai jumlah korban, kerusakan infrastruktur, hingga kebutuhan logistik darurat tidak sinkron antara pusat dan daerah, maka distribusi bantuan akan mengalami keterlambatan yang fatal. Hal ini berisiko memperburuk kondisi pengungsi dan memperlambat proses pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak.

Ada beberapa faktor utama yang diduga menjadi penyebab terjadinya ketidaksinkronan ini, antara lain:

Perbedaan Data Lapangan: Sering terjadi disparitas data antara laporan yang dikirimkan oleh pemerintah daerah dengan verifikasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat.

Tumpang Tindih Kewenangan: Ketidakjelasan batasan tanggung jawab antara instansi pusat dan daerah dalam hal pendanaan dan eksekusi kebijakan di lapangan.

Kendala Logistik dan Distribusi: Alur birokrasi yang berbelit-belit dalam pengiriman bantuan dari pusat ke daerah-daerah terpencil di NTT.

Kapasitas SDM di Daerah: Keterbatasan personel dan perangkat teknologi di tingkat daerah untuk melakukan pelaporan secara real-time kepada pemerintah pusat.

Dampak Fatal Ketidakteraturan Manajemen Krisis

Ketidakteraturan dalam manajemen krisis ini membawa dampak domino yang sangat merugikan. Pertama, dari sisi kemanusiaan, masyarakat yang berada di zona merah bencana kehilangan momentum emas untuk mendapatkan pertolongan medis dan pangan yang memadai. Dalam situasi darurat, setiap menit sangat berharga, dan hambatan koordinasi adalah musuh utama dalam menyelamatkan nyawa.

Kedua, dari sisi ekonomi, ketidakpastian dalam penanganan bencana menghambat proses rehabilitasi infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, dan jaringan listrik. NTT sebagai wilayah yang tengah berupaya meningkatkan sektor pariwisata dan pertanian akan sangat terpukul jika pemulihan infrastruktur pascabencana memakan waktu berbulan-bulan akibat perdebatan birokrasi mengenai anggaran dan tanggung jawab.

Purbaya juga menambahkan bahwa ketidaksinkronan ini juga berdampak pada kepercayaan publik terhadap pemerintah. Masyarakat cenderung merasa ditinggalkan ketika mereka melihat bantuan datang terlambat atau bahkan tidak tepat sasaran, sementara berita mengenai kerugian materiil dan nyawa terus bermunculan di media massa.

Membangun Sistem Mitigasi yang Terintegrasi

Menanggapi kritik tersebut, diperlukan sebuah transformasi dalam pola koordinasi penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya untuk wilayah dengan karakteristik geografis yang menantang seperti NTT. Transformasi ini harus mencakup aspek teknologi, regulasi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Salah satu solusi yang paling mendesak adalah penguatan sistem Single Data atau Satu Data Bencana. Dengan sistem ini, pemerintah daerah dan pusat dapat mengakses data yang sama secara real-time. Jika terjadi bencana, laporan dari tingkat desa dapat langsung terintegrasi ke sistem pusat, sehingga pemerintah pusat dapat segera mengambil keputusan terkait pengiriman bantuan tanpa harus menunggu proses verifikasi manual yang lama.

Langkah Strategis yang Perlu Diambil Pemerintah

Untuk memperbaiki kondisi yang disoroti oleh Purbaya, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis sebagai berikut:

Sinkronisasi Anggaran: Memastikan bahwa alokasi dana darurat dari APBN dan APBD dapat cair secara cepat dan fleksibel tanpa terhambat prosedur administrasi yang kaku saat status darurat ditetapkan.

Penguatan Peran BPBD: Meningkatkan kapasitas fiskal dan operasional BPBD di tingkat daerah agar mampu menjadi garda terdepan yang mandiri sebelum bantuan pusat tiba.

Pelatihan Mitigasi Berkelanjutan: Melakukan simulasi bencana secara rutin yang melibatkan seluruh stakeholder, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga komunitas masyarakat lokal.

Pemanfaatan Teknologi Informasi: Menggunakan platform digital untuk monitoring distribusi bantuan agar dapat terpantau secara transparan dan mencegah terjadinya penyelewengan.

Selain itu, penguatan komunikasi antar-lembaga harus menjadi budaya kerja baru. Koordinasi tidak boleh hanya dilakukan saat bencana terjadi, tetapi harus menjadi agenda rutin dalam perencanaan pembangunan daerah yang berbasis mitigasi bencana (disaster-resilient development).

Kesimpulan

Kritik Purbaya mengenai lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam penanggulangan bencana di NTT merupakan alarm penting bagi sistem manajemen krisis nasional. Ketidaksinkronan kebijakan, data, dan distribusi bantuan bukan hanya menghambat proses pemulihan, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa warga negara. Diperlukan integrasi sistem informasi yang lebih kuat, penyederhanaan birokrasi darurat, serta sinergi nyata antara Jakarta dan daerah agar penanganan bencana di masa depan dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan terukur. Penanggulangan bencana tidak boleh lagi dikelola secara parsial, melainkan harus menjadi kerja kolektif yang terpadu.

Menampilkan Seluruh Artikel