QRIS Bakal Bisa Dipakai di Seluruh ASEAN, Airlangga Ungkap Syarat dan Target DEFA 2026
Integrasi pembayaran digital lintas negara akan menjadi motor penggerak ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai US$ 600 miliar.
Kabar gembira bagi para pelancong dan pelaku usaha di kawasan Asia Tenggara. Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), sistem pembayaran digital andalan Indonesia, diproyeksikan akan segera bisa digunakan secara luas di seluruh negara anggota ASEAN. Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar pemerintah untuk mengintegrasikan sistem pembayaran digital di kawasan guna memperlancar arus transaksi lintas negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa integrasi ini tidak terlepas dari upaya penyelesaian perjanjian penting, yakni ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Perjanjian ini diharapkan dapat menjadi landasan hukum dan teknis yang kuat bagi kolaborasi ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.
Target Penyelesaian DEFA ASEAN pada November 2026
Dalam keterangannya, Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tengah bekerja keras untuk memastikan proses negosiasi DEFA berjalan lancar. Ia menargetkan perjanjian ini dapat dirampungkan sepenuhnya pada November 2026. DEFA dipandang sebagai instrumen krusial untuk menciptakan ekosistem ekonomi digital yang terstandardisasi, aman, dan efisien di seluruh negara anggota ASEAN.
Dengan adanya DEFA, hambatan-hambatan dalam perdagangan digital lintas batas dapat diminimalisir. Salah satu poin utama yang akan diatur adalah mengenai interoperabilitas sistem pembayaran. Hal ini berarti, sistem pembayaran yang digunakan di satu negara, seperti QRIS di Indonesia, harus dapat berkomunikasi dengan lancar dengan sistem pembayaran di negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, atau Singapura.
Airlangga menekankan bahwa integrasi ini bukan sekadar tentang kemudahan transaksi bagi individu, melainkan strategi besar untuk memperkuat posisi ekonomi kawasan dalam rantai pasok global. "Kita menargetkan DEFA ini rampung pada November 2026. Ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi integrasi ekonomi digital di Asia Tenggara," ungkapnya dalam sebuah diskusi ekonomi baru-baru ini.
Syarat Utama Integrasi QRIS di Seluruh Kawasan
Meskipun rencana ini terdengar sangat menjanjikan, terdapat sejumlah syarat dan tantangan teknis yang harus dipenuhi agar QRIS dapat diterima secara merata di seluruh negara ASEAN. Airlangga memberikan gambaran mengenai apa saja yang perlu disiapkan oleh para pemangku kepentingan, baik dari sisi regulasi maupun teknologi.
Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi prasyarat dalam integrasi sistem pembayaran regional tersebut:
Interoperabilitas Sistem: Kemampuan sistem pembayaran antarnegara untuk saling terhubung secara teknis sehingga transaksi dapat terjadi secara real-time tanpa kendala.
Standardisasi Regulasi: Penyelarasan aturan main antara bank sentral di masing-masing negara untuk memastikan perlindungan konsumen yang seragam.
Keamanan Siber yang Solid: Penguatan infrastruktur keamanan digital untuk mencegah praktik penipuan (fraud) dan serangan siber dalam transaksi lintas batas.
Sinkronisasi Kurs Mata Uang: Mekanisme konversi nilai tukar yang transparan dan efisien agar pengguna tidak merasa dirugikan oleh biaya tersembunyi.
Kemitraan Strategis antar Bank Sentral: Kerja sama erat antara Bank Indonesia dengan bank sentral negara-negara ASEAN lainnya untuk menjaga stabilitas sistem pembayaran.
Saat ini, Indonesia sebenarnya telah mencatatkan kemajuan yang signifikan melalui kerja sama pembayaran QRIS lintas batas (cross-border) dengan beberapa negara seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Namun, untuk mencapai cakupan penuh di seluruh ASEAN, standardisasi yang lebih komprehensif di bawah naungan DEFA sangatlah diperlukan.
Peran Penting Bank Indonesia dalam Ekosistem Digital
Bank Indonesia (BI) memegang peranan sentral dalam mewujudkan visi ini. Sebagai otoritas yang mengembangkan dan mengelola QRIS, BI terus melakukan inovasi agar sistem ini tidak hanya kuat secara teknologi, tetapi juga inklusif. Inisiatif Regional Payment Connectivity yang diusung BI menjadi fondasi utama bagi integrasi ini.
Dengan semakin luasnya jangkauan QRIS, diharapkan beban transaksi konversi mata uang yang mahal dapat dikurangi. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia maupun warga negara Indonesia yang sedang berwisata ke luar negeri.
Potensi Ekonomi Digital Indonesia yang Masif
Langkah integrasi pembayaran digital ini dilakukan di tengah momentum pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang sangat pesat. Berdasarkan proyeksi ekonomi, potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan dapat mencapai angka fantastis, yakni sebesar US$ 600 miliar pada tahun-tahun mendatang.
Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa sektor utama, di antaranya:
E-commerce: Peningkatan aktivitas belanja online yang terus tumbuh secara eksponensial.
Fintech (Financial Technology): Layanan pembayaran digital, pinjaman online, dan manajemen kekayaan berbasis aplikasi.
Transportasi dan Logistik Online: Layanan pengiriman dan mobilitas yang semakin terdigitalisasi.
Layanan Hiburan Digital: Konsumsi konten streaming dan gaming yang semakin masif.
Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa jika integrasi regional seperti DEFA dan perluasan QRIS ini berhasil, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi pemain domestik yang kuat, tetapi juga menjadi pemimpin pasar digital di Asia Tenggara. Dengan pasar yang lebih luas dan sistem pembayaran yang terintegrasi, arus modal dan perdagangan digital akan mengalir lebih cepat, yang pada akhirnya akan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Dampak Positif bagi UMKM dan Sektor Pariwisata
Salah satu dampak paling nyata dari perluasan penggunaan QRIS di ASEAN adalah keberpihakan terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selama ini, UMKM seringkali kesulitan dalam menjangkau pasar internasional karena kendala sistem pembayaran. Dengan QRIS yang bisa diterima di seluruh ASEAN, UMKM Indonesia yang menjual produk secara digital dapat menerima pembayaran langsung dari konsumen di negara tetangga dengan cara yang sangat mudah.
Begitu pula dengan sektor pariwisata. Kemudahan bagi wisatawan ASEAN untuk berbelanja di toko-toko lokal menggunakan QRIS akan meningkatkan daya tarik destinasi wisata Indonesia. Tidak perlu lagi repot menukar uang tunai dalam jumlah besar, cukup dengan memindai kode QR, transaksi pun selesai. Hal ini akan meningkatkan spending atau pengeluaran wisatawan di dalam negeri.
Kesimpulan
Rencana perluasan penggunaan QRIS ke seluruh negara ASEAN merupakan langkah strategis yang sangat progresif dalam memperkuat posisi ekonomi digital Indonesia di kancah regional. Dengan target penyelesaian DEFA ASEAN pada November 2026, pemerintah optimis dapat menciptakan ekosistem ekonomi digital yang terintegrasi, aman, dan efisien.
Meskipun tantangan terkait standardisasi regulasi dan keamanan siber masih ada, potensi keuntungan yang sangat besar—termasuk proyeksi ekonomi digital sebesar US$ 600 miliar—menjadi motivasi kuat bagi seluruh pemangku kepentingan. Jika berhasil, integrasi ini tidak hanya akan memudahkan transaksi individu, tetapi juga akan menjadi katalisator utama bagi pertumbuhan UMKM dan sektor pariwisata di seluruh kawasan Asia Tenggara.