DWJ Manajement - PORTAL

Rupiah Dekati Rp18.000, Airlangga: Ekspor Harus Digenjot!

Oleh: DWJ-Manajement • 28 Sep 2026
Rupiah Dekati Rp18.000, Airlangga: Ekspor Harus Digenjot!

Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Airlangga Hartarto Desak Akselerasi Ekspor Nasional

Jakarta - Nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan hebat terhadap Dolar AS, dengan pergerakan yang kini mulai mendekati level psikologis Rp18.000 per Dolar AS. Fenomena pelemahan mata uang nasional ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan, namun Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa langkah mitigasi tengah disiapkan dengan fokus utama pada penguatan neraca perdagangan melalui akselerasi ekspor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia tidak boleh hanya bersikap defensif. Pemerintah justru harus agresif dalam mendorong produk-produk dalam negeri agar mampu menembus pasar internasional secara lebih luas guna memperkuat cadangan devisa negara.

Tekanan Global dan Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Pelemahan Rupiah dalam beberapa pekan terakhir dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang kompleks. Secara eksternal, kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat melalui Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga tinggi telah memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Penguatan Dolar AS yang masif menjadi faktor utama yang menekan mata uang-mata uang di kawasan Asia, tidak terkecuali Rupiah.

Selain faktor suku bunga, ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia turut menambah volatilitas pasar keuangan global. Kondisi ini menciptakan sentimen risk-off, di mana investor cenderung menarik aset mereka dari pasar negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman seperti Dolar AS atau emas. Akibatnya, permintaan terhadap Dolar AS meningkat tajam, yang secara otomatis menekan posisi Rupiah ke level yang lebih rendah.

Mendekati angka Rp18.000 per Dolar AS, pemerintah menyadari bahwa tekanan ini dapat berdampak pada beberapa sektor krusial, terutama industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Kenaikan biaya impor berisiko memicu inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation), yang pada akhirnya dapat menggerus daya beli masyarakat.

Strategi Pemerintah: Ekspor sebagai Penopang Utama

Menghadapi situasi tersebut, Airlangga Hartarto menyatakan bahwa kunci utama untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menjaga surplus neraca perdagangan. Dengan meningkatkan volume dan nilai ekspor, Indonesia akan memiliki pasokan Dolar AS yang lebih besar di dalam negeri, yang secara alami akan memberikan tekanan balik terhadap penguatan Dolar AS.

Pemerintah mendorong para pelaku usaha, terutama di sektor manufaktur dan komoditas, untuk tidak hanya bergantung pada pasar tradisional. Diversifikasi pasar ekspor menjadi agenda prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada negara-negara mitra dagang utama yang mungkin sedang mengalami perlambatan ekonomi.

Berikut adalah beberapa strategi utama yang tengah digalakkan pemerintah untuk mendongkrak kinerja ekspor: