Hilirisasi Industri: Melanjutkan kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah dan mendorong pengolahan di dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah produk ekspor.
Diversifikasi Pasar Non-Tradisional: Memperluas penetrasi pasar ke wilayah Afrika, Asia Tengah, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Digitalisasi Ekspor bagi UMKM: Membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memanfaatkan platform e-commerce global guna menjangkau pembeli internasional.
Penguatan Perjanjian Perdagangan: Mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreements) yang telah ditandatangani untuk menurunkan hambatan tarif.
Optimisme Terhadap Fundamental Ekonomi Nasional
Meski nilai tukar sedang berada dalam fase yang menantang, Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi yang solid. Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang kuat terhadap guncangan eksternal dibandingkan dengan periode krisis sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat inflasi yang relatif terkendali, dan defisit transaksi berjalan yang tetap terjaga merupakan indikator utama kekuatan fundamental tersebut. Pemerintah meyakini bahwa kebijakan fiskal yang disiplin dan koordinasi yang erat dengan Bank Indonesia (BI) akan mampu meredam dampak volatilitas nilai tukar.
Peran Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas
Selain langkah dari sisi fiskal melalui dorongan ekspor, peran Bank Indonesia sangat krusial dalam melakukan intervensi di pasar valas. BI secara rutin melakukan intervensi melalui berbagai instrumen, seperti di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) untuk memastikan volatilitas Rupiah tetap berada dalam rentang yang wajar.