DWJ Manajement - PORTAL

Rupiah Dekati Rp18.000, Airlangga: Ekspor Harus Digenjot!

Oleh: DWJ-Manajement • 28 Sep 2026
Rupiah Dekati Rp18.000, Airlangga: Ekspor Harus Digenjot!

Kebijakan moneter yang adaptif diharapkan dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing. Dengan menjaga selisih suku bunga yang kompetitif, Indonesia diharapkan tetap mampu menarik aliran modal masuk (capital inflow) yang diperlukan untuk memperkuat posisi Rupiah.

Dampak bagi Sektor Industri dan Masyarakat

Pelemahan Rupiah yang mendekati Rp18.000 tentu membawa tantangan tersendiri bagi dunia usaha. Sektor manufaktur yang mengandalkan komponen impor, seperti industri otomotif, elektronik, dan farmasi, akan menghadapi kenaikan biaya produksi. Hal ini jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan kenaikan harga jual produk di tingkat konsumen.

Di sisi lain, bagi para eksportir, pelemahan Rupiah sebenarnya bisa menjadi peluang emas. Produk Indonesia menjadi lebih kompetitif secara harga di pasar global karena nilai tukar Dolar yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pemerintah berupaya agar keuntungan dari sisi nilai tukar ini dapat dialokasikan kembali untuk peningkatan kapasitas produksi, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara jangka panjang.

Bagi masyarakat luas, fokus utama pemerintah adalah menjaga agar inflasi tetap terkendali sehingga daya beli masyarakat tidak merosot tajam. Penguatan sektor produksi dalam negeri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada produk impor, yang secara tidak langsung akan melindungi konsumen dari fluktuasi harga global.

Tantangan Masa Depan: Menjaga Momentum

Tantangan terbesar bagi pemerintah ke depan adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ekspor di tengah potensi perlambatan ekonomi global. Perubahan kebijakan perdagangan di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan China, dapat secara tiba-tiba mengubah peta perdagangan dunia. Oleh karena itu, fleksibilitas dan kecepatan dalam merespons perubahan pasar menjadi kunci keberhasilan ekonomi nasional.

Pemerintah juga harus memastikan bahwa kebijakan hilirisasi tidak hanya berhenti pada sektor mineral, tetapi juga merambah ke sektor pertanian, kelautan, dan industri kreatif yang memiliki potensi nilai tambah tinggi.

Kesimpulan

Pelemahan Rupiah menuju level Rp18.000 per Dolar AS merupakan tantangan nyata yang dipicu oleh dinamika moneter global yang tidak menentu. Namun, pemerintah Indonesia memilih untuk menghadapi tantangan ini dengan strategi proaktif melalui penguatan sektor ekspor dan optimalisasi hilirisasi industri. Dengan menjaga neraca perdagangan tetap surplus dan memanfaatkan fundamental ekonomi yang kuat, Indonesia optimis dapat melewati fase volatilitas ini tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan. Kunci utamanya terletak pada sinergi antara kebijakan fiskal pemerintah, kebijakan moneter Bank Indonesia, dan kesiapan pelaku usaha dalam merespons pasar global.