```html
Solikin M. Juhro Usung Konsep 'Sumitronomics' Jika Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI: Fokus pada Sektor Riil dan Transformasi Ekonomi
JAKARTA - Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M. Juhro, mencuri perhatian dalam proses uji kepatutan (*fit and proper test*) di hadapan Komisi XI DPR RI. Dalam pemaparannya, Solikin memperkenalkan sebuah gagasan besar yang ia sebut sebagai "Sumitronomics" sebagai visi strategis jika nantinya ia dipercaya untuk menduduki kursi pimpinan di bank sentral tersebut.
Konsep "Sumitronomics" ini bukan sekadar istilah baru, melainkan sebuah kerangka pemikiran ekonomi yang mengedepankan penguatan struktur ekonomi nasional melalui integrasi kebijakan moneter yang selaras dengan pertumbuhan sektor riil. Solikin menekankan bahwa peran Bank Indonesia tidak boleh hanya terpaku pada stabilitas harga atau pengendalian inflasi semata, tetapi juga harus menjadi katalisator bagi transformasi ekonomi yang lebih luas.
Mengenal Filosofi 'Sumitronomics' dalam Visi Solikin
Dalam sesi uji kepatutan tersebut, Solikin menjelaskan bahwa "Sumitronomics" terinspirasi dari pemikiran ekonomi struktural yang bertujuan untuk mengubah wajah ekonomi Indonesia dari yang bersifat konsumtif menjadi produktif. Ia berargumen bahwa tantangan ekonomi global yang semakin tidak menentu menuntut Bank Indonesia untuk memiliki pendekatan yang lebih holistik.
Menurut Solikin, Sumitronomics berfokus pada beberapa pilar utama yang harus diperkuat oleh bank sentral untuk memastikan stabilitas jangka panjang. Berikut adalah poin-poin inti dari gagasan tersebut:
Penguatan Sektor Riil: Kebijakan moneter dan makroprudensial harus mampu memberikan ruang bagi industri manufaktur dan sektor produktif lainnya untuk tumbuh, sehingga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah domestik.
Transformasi Struktural: Mendorong pergeseran ekonomi ke arah yang lebih berkualitas melalui hilirisasi dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri agar tidak terjebak dalam jebakan pendapatan menengah (*middle-income trap*).
Sinergi Moneter dan Fiskal: Memastikan kebijakan bank sentral berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Ketahanan Ekonomi Berbasis Domestik: Mengurangi ketergantungan pada faktor eksternal dengan memperkuat struktur ekonomi dalam negeri melalui digitalisasi sistem pembayaran dan penguatan rantai pasok lokal.