Dengan mengusung konsep ini, Solikin ingin menegaskan bahwa Bank Indonesia harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun fondasi ekonomi yang kokoh, bukan hanya sebagai "penjaga gawang" stabilitas nilai tukar rupiah.
Uji Kepatutan di Komisi XI DPR RI: Menjawab Tantangan Global
Proses uji kepatutan di Komisi XI DPR RI menjadi ajang bagi para calon pejabat publik untuk membedah kesiapan mereka dalam menghadapi dinamika ekonomi makro. Para anggota dewan memberikan berbagai pertanyaan tajam terkait bagaimana peran Bank Indonesia dalam menghadapi tekanan inflasi global, fluktuasi nilai tukar, hingga ancaman resesi di berbagai negara maju.
Menanggapi hal tersebut, Solikin memaparkan bahwa dalam era ketidakpastian saat ini, Bank Indonesia tidak bisa lagi menggunakan pendekatan konvensional yang bersifat satu arah. Ia berpendapat bahwa kebijakan yang diambil harus bersifat adaptif dan responsif terhadap perubahan struktur ekonomi yang tengah terjadi, terutama terkait dengan digitalisasi keuangan yang sangat masif.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. "Kita tidak ingin stabilitas yang dicapai justru mengorbankan geliat sektor riil. Itulah mengapa Sumitronomics hadir, agar ada benang merah yang kuat antara pengendalian inflasi dengan pertumbuhan produktivitas nasional," ujar Solikin dalam salah satu sesi pemaparannya.
Sinergi Digitalisasi dan Penguatan Sistem Pembayaran
Selain aspek struktural, Solikin juga menyinggung mengenai peran krusial digitalisasi dalam mendukung visi Sumitronomics. Sebagai bank sentol, BI memiliki peran vital dalam mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Solikin melihat bahwa digitalisasi bukan hanya soal kenyamanan transaksi, melainkan instrumen untuk mempercepat inklusi keuangan dan memperkuat ekonomi kerakyatan.
Dalam pandangannya, integrasi sistem pembayaran digital yang aman dan efisien akan memungkinkan pelaku UMKM untuk masuk ke dalam ekosistem ekonomi formal dengan lebih mudah. Hal ini sejalan dengan semangat Sumitronomics yang ingin memperkuat basis ekonomi dari bawah ke atas (bottom-up), di mana efisiensi biaya transaksi dapat meningkatkan margin keuntungan produsen lokal dan daya beli masyarakat.
Tantangan Implementasi Sumitronomics di Bank Indonesia
Meski konsep yang ditawarkan Solikin terlihat sangat progresif, para anggota Komisi XI DPR RI juga memberikan catatan kritis. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga independensi Bank Indonesia di tengah tuntutan untuk lebih "pro-growth" atau mendukung pertumbuhan ekonomi yang agresif.
Ada kekhawatiran bahwa jika bank sentral terlalu fokus pada dukungan sektor riil, hal itu dapat mengaburkan mandat utamanya dalam menjaga stabilitas harga. Namun, Solikin memberikan klarifikasi bahwa Sumitronomics tidak bertujuan untuk mengabaikan mandat stabilitas. Sebaliknya, ia percaya bahwa stabilitas yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika ekonomi memiliki struktur yang kuat dan tidak mudah goyah oleh guncangan eksternal.