DWJ Manajement - PORTAL

Survei BPS: 69,57% Orang RI Melek Keuangan, 93,61% Punya Akses

Oleh: DWJ-Manajement 10 Aug 2026
Survei BPS: 69,57% Orang RI Melek Keuangan, 93,61% Punya Akses

Kabar Baik! Tingkat Literasi Keuangan Indonesia Tembus 69,57 Persen, Akses Layanan Keuangan Capai 93,61 Persen

Survei Nasional BPS menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemahaman finansial masyarakat di tengah pesatnya digitalisasi ekonomi.

JAKARTA - Perkembangan sektor keuangan di Indonesia menunjukkan tren positif yang menggembirakan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dalam hal pemahaman mengenai pengelolaan keuangan atau literasi keuangan.

Dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru, tercatat bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai angka 69,57 persen. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia kini sudah memiliki pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memadai dalam mengelola keuangan pribadi mereka secara bijak.

Tidak hanya berhenti pada pemahaman, akses masyarakat terhadap layanan jasa keuangan juga menunjukkan angka yang sangat tinggi. Data BPS mengungkapkan bahwa tingkat inklusi keuangan, atau seberapa luas masyarakat dapat menjangkau produk dan layanan keuangan formal, telah menyentuh angka 93,61 persen. Hal ini menandakan bahwa infrastruktur keuangan di tanah air telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat.

Memahami Perbedaan Literasi dan Inklusi Keuangan

Penting untuk dipahami oleh masyarakat luas bahwa terdapat perbedaan mendasar antara literasi keuangan dan inklusi keuangan. Meskipun keduanya saling berkaitan erat, keduanya memiliki dimensi yang berbeda dalam ekosistem ekonomi nasional.

Literasi keuangan berkaitan dengan aspek kognitif dan perilaku. Ini mencakup kemampuan individu untuk memahami konsep bunga, inflasi, risiko investasi, hingga cara menyusun anggaran rumah tangga. Seseorang yang memiliki literasi tinggi tidak hanya sekadar memiliki rekening bank, tetapi juga tahu bagaimana cara menabung yang efektif, bagaimana cara menghindari penipuan, dan bagaimana cara mengelola utang agar tidak menjadi beban di masa depan.

Di sisi lain, inklusi keuangan berkaitan dengan aksesibilitas dan ketersediaan. Inklusi keuangan mengukur sejauh mana produk keuangan seperti tabungan, asuransi, pinjaman, dan instrumen investasi dapat diakses oleh masyarakat. Tingginya angka inklusi sebesar 93,61 persen menunjukkan bahwa produk-produk perbankan maupun non-perbankan sudah tersedia dan dapat digunakan oleh sebagian besar warga Indonesia, baik di perkotaan maupun di pelosok daerah.

Meskipun angka inklusi jauh lebih tinggi dibandingkan angka literasi, hal ini mencerminkan adanya celah atau gap yang perlu terus diperhatikan oleh pemerintah dan otoritas terkait. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai hubungan keduanya:

Akses Tanpa Pemahaman: Tingginya inklusi (93,61%) dibandingkan literasi (69,57%) menunjukkan bahwa banyak orang sudah memiliki akses ke produk keuangan (seperti dompet digital atau rekening bank), namun belum sepenuhnya memahami risiko dan manfaat dari produk tersebut.