Risiko Salah Kelola: Tanpa literasi yang setara dengan tingkat inklusi, masyarakat rentan terjebak dalam penggunaan produk keuangan yang tidak tepat, seperti penggunaan fitur "paylater" yang berlebihan atau investasi bodong.
Potensi Pertumbuhan Ekonomi: Jika angka literasi dapat dikejar hingga mendekati angka inklusi, maka efisiensi ekonomi nasional akan meningkat karena masyarakat dapat mengalokasikan modal mereka ke instrumen yang lebih produktif.
Dampak Digitalisasi Terhadap Percepatan Inklusi Keuangan
Salah satu faktor utama yang mendorong melesatnya angka inklusi keuangan di Indonesia adalah akselerasi digitalisasi. Transformasi digital telah meruntuhkan hambatan geografis yang selama ini menjadi kendala utama layanan perbankan konvensional. Dengan adanya teknologi finansial atau fintech, masyarakat di daerah terpencil kini dapat melakukan transaksi keuangan hanya melalui ponsel pintar mereka.
Kehadiran layanan perbankan digital, dompet elektronik (e-wallet), hingga platform investasi daring telah mempermudah masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas ekonomi. Hal ini terlihat dari angka inklusi yang mencapai 93,61 persen, yang menunjukkan bahwa keterbatasan kantor cabang fisik bukan lagi menjadi penghalang utama bagi masyarakat untuk masuk ke dalam sistem keuangan formal.
Namun, kemudahan ini membawa tantangan baru. Digitalisasi yang sangat cepat seringkali tidak dibarengi dengan kecepatan edukasi. Inilah yang menyebabkan angka literasi keuangan (69,57%) masih tertinggal di bawah angka inklusi. Masyarakat cenderung "mengadopsi" teknologi keuangan karena kepraktisannya, namun belum tentu memahami mekanisme kerja di balik produk tersebut.
Tantangan Utama: Menutup Celah Literasi dan Inklusi
Meskipun data BPS ini merupakan sebuah prestasi, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga terkait masih memiliki pekerjaan rumah yang besar. Fokus utama saat ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas penggunaan layanan keuangan, bukan sekadar meningkatkan jumlah pengguna.
Ada beberapa tantangan krusial yang harus dihadapi dalam upaya meningkatkan literasi keuangan di Indonesia:
Maraknya Penipuan Keuangan Digital: Dengan tingginya inklusi, masyarakat menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan siber, mulai dari skema phishing hingga penipuan berbasis aplikasi investasi palsu.