Subsidi Pemerintah: Dukungan finansial yang masif dari Beijing memungkinkan perusahaan-perusahaan mereka untuk melakukan ekspansi agresif dan menjual produk dengan harga yang sangat kompetitif di pasar internasional.
Kondisi ini menciptakan situasi di mana produsen di Amerika Serikat sulit untuk bersaing secara harga, meskipun mereka memiliki teknologi yang mumpuni. Tarif 15% yang diterapkan Trump diharapkan dapat melakukan "leveling the playing field" atau menciptakan arena bermain yang setara bagi produsen domestik Amerika.
Dampak Kebijakan Tarif terhadap Industri Energi Terbarukan
Meskipun kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat kemandirian nasional, para ahli memperingatkan adanya efek samping yang bisa merugikan sektor energi hijau di Amerika Serikat sendiri. Penerapan tarif terhadap bahan baku berarti biaya produksi panel surya di AS akan meningkat secara otomatis.
Kenaikan biaya bahan baku ini kemungkinan besar akan dibebankan kepada konsumen akhir. Bagi perusahaan pengembang proyek energi surya skala besar maupun rumah tangga yang ingin memasang panel surya di atap mereka, harga yang lebih tinggi dapat menjadi penghalang utama dalam mempercepat transisi energi bersih.
Risiko bagi Transisi Energi Hijau
Ada beberapa risiko ekonomi dan lingkungan yang muncul akibat kebijakan proteksionis ini:
Peningkatan Biaya Proyek: Proyek-proyek energi terbarukan yang sudah direncanakan mungkin harus meninjau ulang anggaran mereka karena lonjakan harga komponen.
Perlambatan Adopsi Teknologi: Jika harga panel surya menjadi terlalu mahal, masyarakat dan industri akan cenderung tetap menggunakan bahan bakar fosil yang harganya lebih stabil.
Gangguan Rantai Pasok Global: Kebijakan tarif seringkali memicu aksi balasan (retaliasi) dari negara yang terdampak, yang dapat mengganggu arus perdagangan global secara keseluruhan.