DWJ Manajement - PORTAL

Video: Selat Hormuz Memanas, Seberapa Kuat IHSG Bisa Terus Menghijau?

Oleh: DWJ-Manajement 19 Jul 2026
Video: Selat Hormuz Memanas, Seberapa Kuat IHSG Bisa Terus Menghijau?

Selat Hormuz Memanas, Mampukah IHSG Bertahan di Zona Hijau di Tengah Ketidakpastian Geopolitik?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini menunjukkan performa yang cukup impresif dengan deretan grafik yang didominasi warna hijau. Optimisme investor sempat membubung tinggi, didorong oleh berbagai sentimen domestik yang positif dan ekspektasi terhadap stabilitas ekonomi nasional. Namun, di tengah euforia penguatan tersebut, sebuah ancaman laten muncul dari kancah geopolitik global, tepatnya dari kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang kembali memanas di Selat Hormuz kini menjadi perhatian serius para pelaku pasar modal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Selat Hormuz bukan sekadar jalur perairan biasa. Wilayah ini merupakan salah satu "choke point" atau titik nadi paling kritis dalam perdagangan energi global. Gangguan sekecil apa pun di jalur ini dapat memicu efek domino yang luar biasa terhadap stabilitas ekonomi dunia. Pertanyaannya kemudian, sejauh mana ketegangan di Selat Hormuz ini dapat meredam laju kenaikan IHSG, atau justru menjadi katalis baru bagi sektor-sektor tertentu di pasar saham kita?

Ancaman Geopolitik: Mengapa Selat Hormuz Begitu Vital?

Bagi para trader dan investor, memahami geopolitik bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara historis, jalur ini menjadi jalur utama bagi distribusi minyak mentah dari negara-negara produsen besar di Timur Tengah menuju pasar global, termasuk Asia. Hampir seperlima dari konsumsi minyak dunia melintasi selat sempit ini setiap harinya.

Ketika eskalasi konflik di kawasan tersebut meningkat, risiko penutupan jalur atau gangguan keamanan menjadi nyata. Ketidakpastian ini secara otomatis akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Dalam kacamata pasar modal, kenaikan harga komoditas energi sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memberikan keuntungan bagi produsen, namun di sisi lain, ia membawa ancaman inflasi yang dapat mengganggu stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.

Ketegangan di Selat Hormuz menciptakan apa yang disebut oleh para analis sebagai "risk-off sentiment". Dalam kondisi ini, investor cenderung menghindari aset-aset berisiko seperti saham, dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti emas atau obligasi pemerintah Amerika Serikat. Jika sentimen ini menguat secara global, tekanan jual pada IHSG bisa meningkat, yang berpotensi membalikkan tren hijau yang sedang dinikmati saat ini.

Efek Domino: Dari Harga Minyak ke Kebijakan Suku Bunga

Hubungan antara Selat Hormuz, harga minyak, dan IHSG dapat dijelaskan melalui rantai ekonomi yang kompleks. Mari kita bedah bagaimana mekanisme ini bekerja dalam konteks pasar modal Indonesia:

Lonjakan Harga Minyak Dunia: Ketegangan geopolitik memicu spekulasi bahwa pasokan minyak akan terganggu, sehingga harga minyak mentah (seperti Brent atau WTI) meroket.

Tekanan Inflasi: Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya transportasi dan biaya produksi barang secara global. Hal ini memicu kenaikan inflasi.

Respon Kebijakan Moneter: Untuk meredam inflasi yang tinggi, bank sentral—terutama Federal Reserve di Amerika Serikat—mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama atau bahkan menaikkannya kembali.

Aliran Modal Keluar (Capital Outflow): Suku bunga global yang tinggi membuat aset berdenominasi Dollar AS menjadi lebih menarik. Akibatnya, investor asing cenderung menarik modalnya dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, untuk kembali ke pasar AS.