DWJ Manajement - PORTAL

Wisman Habiskan Rp23 Juta Liburan di RI, Ini Strategi InJourney dan GIAA

Oleh: DWJ-Manajement 12 Aug 2026
Wisman Habiskan Rp23 Juta Liburan di RI, Ini Strategi InJourney dan GIAA

Wisman Borong Liburan di Indonesia, Rata-rata Habiskan Rp23 Juta Per Kunjungan—Ini Strategi InJourney & Garuda

Lonjakan belanja wisatawan mancanegara menjadi sinyal positif bagi penguatan devisa negara melalui penguatan ekosistem pariwisata terintegrasi.

Sektor pariwisata Indonesia kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional. Kabar terbaru mengungkapkan bahwa daya beli wisatawan mancanegara (wisman) saat berkunjung ke tanah air mengalami tren yang sangat menjanjikan. Berdasarkan data terbaru, rata-rata pengeluaran setiap wisatawan mancanegara selama berada di Indonesia mencapai angka US$ 1.285 atau jika dikonversikan ke dalam rupiah mencapai sekitar Rp23 juta per kunjungan.

Angka ini bukan sekadar statistik semata, melainkan sebuah indikator kuat mengenai kualitas pariwisata Indonesia yang mulai bergeser ke arah high-value tourism atau pariwisata bernilai tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan yang datang ke Indonesia tidak hanya mencari pengalaman budaya atau keindahan alam, tetapi juga bersedia menggelontorkan dana yang signifikan untuk akomodasi, transportasi, kuliner, hingga belanja produk lokal.

Potensi Besar Devisa dari Belanja Wisatawan Mancanegara

Tingginya rata-rata pengeluaran per kunjungan ini memberikan dampak pengganda (multiplier effect) yang luas bagi ekonomi nasional. Ketika seorang wisatawan menghabiskan Rp23 juta dalam satu kali perjalanan, aliran dana tersebut tidak hanya berhenti di satu sektor, melainkan mengalir ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari penyedia jasa transportasi, perhotelan, pemandu wisata, hingga pelaku UMKM di destinasi wisata.

Pemerintah melalui berbagai instansi terkait terus berupaya menjaga momentum ini. Fokus utama saat ini adalah bagaimana meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus mempertahankan atau bahkan menaikkan rata-rata belanja tersebut. Strategi yang diterapkan tidak lagi hanya mengejar kuantitas (jumlah orang), tetapi lebih menekankan pada kualitas pengalaman yang diberikan kepada wisatawan.

Beberapa faktor yang memengaruhi tingginya pengeluaran ini antara lain:

Keragaman Destinasi: Indonesia menawarkan lebih dari sekadar Bali, dengan munculnya destinasi super prioritas seperti Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur.

Pengalaman Kuliner: Kekayaan gastronomi Indonesia menjadi daya tarik tersendiri yang mendorong wisatawan untuk mengeksplorasi berbagai jenis makanan lokal.

Aktivitas Premium: Meningkatnya permintaan akan wisata minat khusus seperti diving, wellness tourism, dan wisata berbasis alam yang memerlukan biaya lebih tinggi.