DWJ Manajement - PORTAL

Zulhas Bantah Ada Pengadaan Proyek Kipas Angin Kopdes Rp 1,8 T

Oleh: DWJ-Manajement 28 Jul 2026
Zulhas Bantah Ada Pengadaan Proyek Kipas Angin Kopdes Rp 1,8 T

Zulhas Tegaskan Tak Ada Proyek Kipas Angin Rp 1,8 Triliun dalam Program Koperasi Desa: Itu Hoaks!

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Zulkifli Hasan, memberikan klarifikasi tegas terkait isu miring yang tengah beredar luas di tengah masyarakat. Ia membantah keras kabar mengenai adanya pengadaan proyek kipas angin senilai Rp 1,8 triliun yang diklaim merupakan bagian dari program Koperasi Desa (Kopdes).

Isu yang menyebutkan adanya anggaran fantastis untuk pengadaan barang elektronik sederhana tersebut sempat memicu kegaduhan di berbagai platform media sosial. Namun, Zulhas menegaskan bahwa informasi tersebut sama sekali tidak memiliki dasar kebenaran dan merupakan bentuk disinformasi yang menyesatkan publik.

Bantahan Keras Menko Zulkifli Hasan

Dalam keterangannya, Zulkifli Hasan menyatakan bahwa tuduhan pengadaan kipas angin dalam jumlah besar tersebut adalah murni hoaks. Menurutnya, angka Rp 1,8 triliun yang dimunculkan dalam isu tersebut sangat tidak masuk akal jika dikaitkan dengan jenis barang yang disebutkan.

Zulhas menjelaskan bahwa proses penganggaran negara dilakukan dengan mekanisme yang sangat ketat, transparan, dan melalui berbagai tahapan audit. Tidak mungkin ada pengadaan barang dalam skala sebesar itu tanpa melalui perencanaan yang matang dan pengawasan yang berlapis dari lembaga terkait.

"Saya tegaskan, tidak ada proyek pengadaan kipas angin senilai Rp 1,8 triliun dalam program Koperasi Desa. Itu berita bohong atau hoaks. Jangan sampai masyarakat termakan informasi yang tidak bertanggung jawab," ujar Zulhas kepada awak media.

Mengapa Isu Ini Muncul?

Meskipun belum diketahui secara pasti sumber asli dari kabar burung tersebut, pola penyebaran informasi yang tidak valid ini sering kali memanfaatkan isu sensitif terkait penggunaan anggaran negara. Isu pengadaan barang yang dianggap "tidak mendesak" atau "mewah" sering kali menjadi sasaran empuk untuk membangun opini negatif terhadap pemerintah.

Dalam kasus ini, angka Rp 1,8 triliun sengaja digunakan untuk menciptakan efek kejut (shock value) agar masyarakat merasa geram. Penggunaan narasi "Koperasi Desa" juga bertujuan untuk menyasar sentimen masyarakat bawah, agar muncul persepsi bahwa anggaran yang seharusnya untuk pemberdayaan rakyat justru disalahgunakan untuk pengadaan barang yang tidak relevan.

Fokus Utama Program Koperasi Desa (Kopdes)

Zulkifli Hasan menekankan bahwa fokus utama dari penguatan Koperasi Desa bukanlah pada pengadaan barang-barang konsumtif, melainkan pada pembangunan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan di tingkat akar rumput. Program Kopdes dirancang untuk menjadi motor penggerak ekonomi pedesaan melalui beberapa pilar utama: