Warga Jabodetabek Mengeluh Suhu Ekstrem: Mengapa Malam Terasa Dingin Tapi Siang Sangat Panas? Ini Penjelasan BMKG
Fenomena "Bediding" dan pengaruh Angin Monsun Australia menjadi penyebab utama fluktuasi suhu yang drastis di wilayah ibu kota dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir.
Belakangan ini, masyarakat yang beraktivitas di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) merasakan adanya perubahan cuaca yang cukup mencolok. Banyak warga mengeluhkan kondisi suhu yang terasa sangat dingin dan menusuk tulang pada malam hingga dini hari, namun secara drastis berubah menjadi panas terik dan menyengat saat matahari mencapai puncaknya di siang hari.
Ketidakteraturan suhu ini memicu berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Mengapa transisi suhu antara malam dan siang hari terasa begitu kontras? Apakah ini pertanda akan datangnya musim kemarau yang ekstrem? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya memberikan penjelasan ilmiah terkait dinamika atmosfer yang tengah terjadi di wilayah Indonesia, khususnya di kawasan Jabodetabek.
Fenomena Bediding: Dingin di Malam Hari
Menurut penjelasan dari pihak BMKG, kondisi suhu dingin yang dirasakan masyarakat pada malam hingga pagi hari bukanlah tanpa alasan. Fenomena ini berkaitan erat dengan apa yang secara tradisional dalam budaya masyarakat Jawa disebut sebagai fenomena "Bediding".
Bediding merujuk pada kondisi suhu udara yang turun secara signifikan pada musim kemarau, terutama pada malam hingga pagi hari. Hal ini terjadi karena berkurangnya tutupan awan di langit. Dalam kondisi cuaca yang cerah tanpa awan, panas yang diserap oleh permukaan bumi pada siang hari akan dilepaskan kembali ke atmosfer secara cepat pada malam hari melalui proses radiasi balik.
Tanpa adanya lapisan awan yang berfungsi sebagai "selimut" untuk menahan panas tersebut, radiasi termal dari bumi langsung lepas ke luar angkasa. Akibatnya, suhu di permukaan bumi, terutama di daratan, mengalami penurunan yang tajam. Inilah yang menyebabkan warga seringkali harus menggunakan pakaian tebal atau jaket saat keluar rumah di dini hari.
Peran Angin Monsun Australia
Penyebab utama di balik fenomena ini adalah keberadaan Angin Monsun Australia yang tengah berhembus menuju arah Indonesia. Saat ini, benua Australia sedang mengalami musim dingin. Kondisi ini menciptakan tekanan udara tinggi di wilayah Australia.
Sesuai dengan hukum dinamika atmosfer, udara akan bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Dalam hal ini, massa udara yang bersifat kering dan dingin dari Australia bergerak melewati Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek. Massa udara ini membawa karakteristik suhu yang rendah dan kelembapan yang sangat kering.
Kedatangan massa udara dingin dari Australia inilah yang memperkuat efek pendinginan di daratan Indonesia. Karena massa udara yang dibawa bersifat kering, maka tidak hanya suhu yang turun, tetapi tingkat kelembapan udara pun ikut menurun, yang membuat udara terasa lebih "tajam" atau dingin saat mengenai kulit.
Mengapa Siang Hari Terasa Sangat Panas?