DWJ Manajement - PORTAL

BMKG Ungkap Alasan Jakarta Dingin Saat Malam tapi Panas Ketika Siang

Oleh: DWJ-Manajement 10 Jul 2026
BMKG Ungkap Alasan Jakarta Dingin Saat Malam tapi Panas Ketika Siang

Warga Jabodetabek Mengeluh Suhu Ekstrem: Mengapa Malam Terasa Dingin Tapi Siang Sangat Panas? Ini Penjelasan BMKG

Fenomena "Bediding" dan pengaruh Angin Monsun Australia menjadi penyebab utama fluktuasi suhu yang drastis di wilayah ibu kota dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir.

Belakangan ini, masyarakat yang beraktivitas di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) merasakan adanya perubahan cuaca yang cukup mencolok. Banyak warga mengeluhkan kondisi suhu yang terasa sangat dingin dan menusuk tulang pada malam hingga dini hari, namun secara drastis berubah menjadi panas terik dan menyengat saat matahari mencapai puncaknya di siang hari.

Ketidakteraturan suhu ini memicu berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Mengapa transisi suhu antara malam dan siang hari terasa begitu kontras? Apakah ini pertanda akan datangnya musim kemarau yang ekstrem? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya memberikan penjelasan ilmiah terkait dinamika atmosfer yang tengah terjadi di wilayah Indonesia, khususnya di kawasan Jabodetabek.

Fenomena Bediding: Dingin di Malam Hari

Menurut penjelasan dari pihak BMKG, kondisi suhu dingin yang dirasakan masyarakat pada malam hingga pagi hari bukanlah tanpa alasan. Fenomena ini berkaitan erat dengan apa yang secara tradisional dalam budaya masyarakat Jawa disebut sebagai fenomena "Bediding".

Bediding merujuk pada kondisi suhu udara yang turun secara signifikan pada musim kemarau, terutama pada malam hingga pagi hari. Hal ini terjadi karena berkurangnya tutupan awan di langit. Dalam kondisi cuaca yang cerah tanpa awan, panas yang diserap oleh permukaan bumi pada siang hari akan dilepaskan kembali ke atmosfer secara cepat pada malam hari melalui proses radiasi balik.

Tanpa adanya lapisan awan yang berfungsi sebagai "selimut" untuk menahan panas tersebut, radiasi termal dari bumi langsung lepas ke luar angkasa. Akibatnya, suhu di permukaan bumi, terutama di daratan, mengalami penurunan yang tajam. Inilah yang menyebabkan warga seringkali harus menggunakan pakaian tebal atau jaket saat keluar rumah di dini hari.

Peran Angin Monsun Australia

Penyebab utama di balik fenomena ini adalah keberadaan Angin Monsun Australia yang tengah berhembus menuju arah Indonesia. Saat ini, benua Australia sedang mengalami musim dingin. Kondisi ini menciptakan tekanan udara tinggi di wilayah Australia.

Sesuai dengan hukum dinamika atmosfer, udara akan bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Dalam hal ini, massa udara yang bersifat kering dan dingin dari Australia bergerak melewati Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek. Massa udara ini membawa karakteristik suhu yang rendah dan kelembapan yang sangat kering.

Kedatangan massa udara dingin dari Australia inilah yang memperkuat efek pendinginan di daratan Indonesia. Karena massa udara yang dibawa bersifat kering, maka tidak hanya suhu yang turun, tetapi tingkat kelembapan udara pun ikut menurun, yang membuat udara terasa lebih "tajam" atau dingin saat mengenai kulit.

Mengapa Siang Hari Terasa Sangat Panas?

Pertanyaan menarik berikutnya adalah: jika malamnya dingin karena angin dari Australia, mengapa saat siang hari cuaca justru terasa sangat panas dan menyengat? Hal ini merupakan konsekuensi logis dari kondisi langit yang cerah tanpa awan.

Ketika fenomena Monsun Australia membawa udara kering, langit cenderung menjadi sangat bersih dari awan (clear sky). Minimnya tutupan awan berarti tidak ada penghalang bagi sinar matahari untuk mencapai permukaan bumi. Sinar matahari, terutama radiasi ultraviolet (UV), dapat langsung menembus atmosfer dan memanaskan permukaan tanah, bangunan, dan jalanan secara intensif.

Selain itu, karena kelembapan udara yang rendah (udara kering), panas yang dihasilkan oleh sinar matahari tidak banyak terdistribusi melalui uap air di atmosfer, melainkan langsung memanaskan benda-benda di permukaan. Hal inilah yang menciptakan sensasi panas yang "kering" dan menyengat di siang hari, yang seringkali membuat masyarakat merasa lebih gerah meskipun suhu udara mungkin tidak setinggi saat musim hujan.

Kombinasi Kelembapan Rendah dan Radiasi Tinggi

Kombinasi antara radiasi matahari yang tinggi dan tingkat kelembapan yang rendah menciptakan kondisi yang unik. Pada siang hari, penguapan terjadi lebih cepat. Namun, karena udara sudah cenderung kering, suhu terasa sangat kontras dengan suhu malam hari. Ketidakstabilan suhu yang lebar antara titik terendah di pagi hari dan titik tertinggi di siang hari inilah yang seringkali mengganggu kenyamanan aktivitas warga.

Dampak Fenomena Terhadap Kesehatan Masyarakat

Perubahan suhu yang ekstrem atau fluktuasi suhu yang lebar dalam satu hari (diurnal temperature range) dapat berdampak pada kondisi kesehatan manusia. Perubahan suhu yang mendadak memaksa tubuh untuk bekerja lebih keras dalam melakukan termoregulasi atau pengaturan suhu tubuh.

Beberapa dampak kesehatan yang perlu diwaspadai antara lain:

Gangguan Pernapasan: Udara yang kering dan berdebu saat musim kemarau dapat memicu asma, sinusitis, atau batuk kering.

Masalah Kulit: Rendahnya kelembapan udara dapat menyebabkan kulit menjadi kering, pecah-pecah, dan gatal.

Dehidrasi: Meskipun udara terasa dingin di malam hari, panas yang menyengat di siang hari dapat meningkatkan risiko dehidrasi jika tidak dibarengi dengan asupan cairan yang cukup.

Penurunan Imunitas: Perubahan suhu yang drastis dapat membuat sistem imun tubuh melemah, sehingga lebih rentan terhadap infeksi virus seperti flu.

Tips Menghadapi Perubahan Cuaca Ekstrem

Untuk meminimalisir dampak buruk dari fenomena Bediding dan cuaca panas yang menyengat ini, BMKG dan para ahli kesehatan menyarankan beberapa langkah preventif bagi masyarakat Jabodetabek:

Gunakan Pakaian yang Sesuai: Gunakan pakaian berbahan tebal atau jaket saat malam dan pagi hari untuk menjaga suhu tubuh. Sebaliknya, gunakan pakaian berbahan katun yang menyerap keringat saat siang hari.

Cukupi Kebutuhan Cairan: Tetap minum air putih dalam jumlah cukup meskipun tidak merasa haus, terutama saat suhu siang hari meningkat tajam, untuk menghindari dehidrasi.

Gunakan Pelembap: Gunakan losion atau pelembap kulit untuk menjaga hidrasi kulit agar tidak kering akibat udara yang rendah kelembapannya.

Lindungi Diri dari Sinar Matahari: Saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, gunakan tabir surya (sunscreen), topi, atau payung untuk melindungi kulit dari radiasi UV yang tinggi.

Jaga Pola Makan dan Istirahat: Konsumsi makanan bergizi dan pastikan tidur yang cukup untuk menjaga imunitas tubuh tetap stabil di tengah perubahan cuaca.

Kesimpulan

Fenomena suhu ekstrem di Jabodetabek, di mana malam terasa dingin namun siang terasa panas, adalah akibat dari mekanisme atmosfer yang saling berkaitan. Fenomena "Bediding" yang dipicu oleh minimnya tutupan awan menyebabkan pelepasan panas bumi yang cepat di malam hari. Hal ini diperkuat oleh kehadiran Angin Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering ke wilayah Indonesia.

Di sisi lain, langit yang cerah tanpa awan memungkinkan radiasi matahari masuk secara maksimal pada siang hari, menciptakan suhu panas yang menyengat. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap perubahan suhu yang drastis ini dengan menjaga kesehatan, hidrasi, dan perlindungan kulit agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan optimal.

Menampilkan Seluruh Artikel