DWJ Manajement - PORTAL

Bos Bank Jatim Ungkap Tiga Kunci Keberhasilan BPD

Oleh: DWJ-Manajement 05 Aug 2026
Bos Bank Jatim Ungkap Tiga Kunci Keberhasilan BPD

Strategi Perkuat Eksistensi BPD: Dirut Bank Jatim Ungkap Tiga Pilar Utama Kesuksesan

Modal yang kuat, sistem digital yang mumpuni, serta kualitas SDM menjadi kunci utama dalam menghadapi persaingan perbankan nasional yang kian kompetitif.

Persaingan di industri perbankan tanah air kini memasuki babak baru yang lebih dinamis. Tidak hanya didominasi oleh bank-bank besar berskala nasional, namun Bank Pembangunan Daerah (BPD) juga dituntut untuk terus bertransformasi agar tetap relevan dan mampu menggerakkan roda ekonomi di daerah. Di tengah gempuran bank digital dan layanan fintech, posisi BPD menjadi sangat krusial sebagai pilar ekonomi kerakyatan.

Menanggapi tantangan tersebut, Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, memaparkan pandangan strategis mengenai bagaimana sebuah BPD dapat mempertahankan eksistensi sekaligus meningkatkan daya saingnya di level nasional. Menurutnya, keberhasilan sebuah BPD tidak bisa hanya mengandalkan kedekatan emosional dengan pemerintah daerah, melainkan harus didasarkan pada fondasi fundamental yang kokoh.

Tiga Pilar Keberhasilan BPD di Era Modern

Dalam keterangannya, Winardi menekankan bahwa ada tiga variabel kunci yang menjadi penentu apakah sebuah BPD mampu bertahan dan berkembang atau justru tertinggal dalam arus digitalisasi. Ketiga variabel tersebut adalah kekuatan modal, keandalan sistem, dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Ketiga aspek ini saling bertautan dan membentuk satu ekosistem yang menentukan kesehatan serta performa bank secara keseluruhan. Jika salah satu aspek lemah, maka integritas operasional bank tersebut akan mudah goyah saat menghadapi fluktuasi ekonomi maupun disrupsi teknologi.

1. Penguatan Struktur Modal

Pilar pertama yang disoroti oleh Winardi adalah modal. Dalam dunia perbankan, modal bukan sekadar angka dalam neraca keuangan, melainkan instrumen utama untuk melakukan ekspansi kredit dan mitigasi risiko. BPD yang memiliki struktur permodalan yang kuat akan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menyalurkan pembiayaan ke berbagai sektor produktif di daerah.

Kekuatan modal memungkinkan BPD untuk:

Memperluas jangkauan kredit kepada UMKM yang selama ini belum tersentuh perbankan (unbanked).

Menjaga rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) agar tetap dalam batas aman sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Mendukung investasi pada infrastruktur teknologi yang mahal namun sangat dibutuhkan.

Winardi menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah daerah sebagai pemegang saham dengan manajemen bank sangat diperlukan untuk memastikan kebijakan penambahan modal dapat dilakukan secara berkelanjutan demi mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

2. Transformasi dan Keandalan Sistem

Pilar kedua adalah sistem. Di era di mana transaksi dapat dilakukan hanya dalam genggaman tangan, sistem perbankan yang konvensional sudah tidak lagi memadai. BPD harus mampu mengadopsi teknologi terkini untuk memastikan layanan mereka secepat dan semudah bank umum nasional maupun perusahaan teknologi finansial.

Digitalisasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Sistem yang mumpuni mencakup keamanan data nasabah, kemudahan akses melalui mobile banking, hingga kecepatan proses administrasi di lini belakang (back-end). BPD dituntut untuk memiliki sistem yang mampu mengintegrasikan layanan perbankan dengan ekosistem digital yang lebih luas, seperti pembayaran pajak daerah, retribusi, hingga integrasi dengan e-commerce lokal.

Sistem yang handal akan meminimalisir human error, mempercepat proses pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making), dan yang terpenting, memberikan pengalaman pengguna (user experience) yang memuaskan bagi nasabah.

3. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

Pilar ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah Sumber Daya Manusia. Sehebat apa pun teknologi yang dimiliki sebuah bank, tanpa manusia yang kompeten untuk mengoperasikannya, teknologi tersebut akan menjadi sia-sia. Winardi menegaskan bahwa SDM adalah penggerak utama dari strategi bank.

BPD membutuhkan talenta yang tidak hanya menguasai aspek perbankan secara tradisional, tetapi juga memiliki literasi digital yang tinggi. Karyawan bank di masa depan harus mampu memahami analisis data, manajemen risiko berbasis teknologi, hingga memberikan layanan konsultasi keuangan yang cerdas kepada nasabah.

Pengembangan budaya kerja yang adaptif dan inovatif juga menjadi fokus utama. SDM yang unggul adalah mereka yang mampu bekerja secara lincah (agile) dalam menghadapi perubahan pasar yang sangat cepat dan mampu memberikan solusi finansial yang tepat bagi kebutuhan masyarakat daerah.

Strategi KUB: Mengakselerasi Daya Saing Melalui Pemberdayaan Komunitas

Selain memperkuat tiga pilar di atas, Winardi juga mengungkap salah satu strategi kunci yang diterapkan untuk meningkatkan daya saing, yakni melalui pengembangan Kelompok Usaha Bersama (KUB). Strategi ini merupakan langkah konkret Bank Jatim dalam menjangkau segmen mikro yang merupakan tulang punggung ekonomi di Jawa Timur.

KUB dirancang untuk memberikan dukungan finansial sekaligus pendampingan kepada kelompok-kelompok usaha kecil. Melalui pendekatan berbasis komunitas ini, BPD dapat melakukan mitigasi risiko dengan lebih efektif karena adanya kontrol sosial antar anggota kelompok. Selain itu, strategi ini juga memungkinkan bank untuk menyalurkan kredit secara lebih efisien dengan biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan dengan pendekatan individu.

Keuntungan menggunakan pendekatan KUB bagi BPD antara lain:

Mitigasi Risiko Kolektif: Risiko gagal bayar dapat ditekan melalui sistem tanggung renteng dalam kelompok.

Peningkatan Literasi Keuangan: Bank dapat memberikan edukasi keuangan secara massal melalui pertemuan kelompok.

Efisiensi Operasional: Proses survei dan penagihan menjadi lebih mudah karena dilakukan secara berkelompok.

Pendampingan Berkelanjutan: Membantu UMKM naik kelas dari sektor informal ke formal.

Dengan mengombinasikan kekuatan modal, kecanggihan sistem, keunggulan SDM, dan strategi penyaluran kredit yang tepat sasaran seperti KUB, BPD diharapkan tidak hanya menjadi "penonton" di daerahnya sendiri, tetapi menjadi pemimpin pasar yang mampu mendorong kesejahteraan masyarakat secara luas.

Kesimpulan

Keberhasilan Bank Pembangunan Daerah (BPD) dalam menghadapi tantangan perbankan modern sangat bergantung pada kemampuannya dalam memperkuat tiga fondasi utama: modal yang kokoh, sistem digital yang mutakhir, dan SDM yang kompeten. Ketiga aspek ini harus berjalan beriringan dengan strategi penyaluran kredit yang inovatif, seperti pengembangan Kelompok Usaha Bersama (KUB), untuk memastikan inklusi keuangan dapat menjangkau lapisan masyarakat terbawah. Dengan implementasi yang konsisten, BPD akan mampu bertransformasi menjadi lembaga keuangan yang tangguh, kompetitif, dan menjadi motor penggerak utama ekonomi daerah di kancah nasional.

Menampilkan Seluruh Artikel