DWJ Manajement - PORTAL

Ekonomi RI Bisa Tumbuh Tinggi, tapi Ada Syaratnya

Oleh: DWJ-Manajement 09 Aug 2026
Ekonomi RI Bisa Tumbuh Tinggi, tapi Ada Syaratnya

Ekonomi Indonesia Terjebak di Angka 5 Persen, Ekonom Indef Ungkap Syarat Mutlak Agar Bisa Melompat Tinggi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama beberapa tahun terakhir menunjukkan stabilitas yang cukup baik. Namun, di balik angka stabilitas tersebut, muncul sebuah pertanyaan besar: mengapa Indonesia seolah tertahan di angka psikologis 5 persen? Angka ini dianggap belum cukup kuat untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J Rachbini, memberikan catatan kritis terkait fenomena ini. Menurutnya, meskipun ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan terhadap guncangan global, terdapat hambatan struktural yang membuat mesin pertumbuhan kita tidak bisa berlari lebih kencang. Untuk bisa menembus angka pertumbuhan 6 hingga 7 persen, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan pola lama.

Mengapa Pertumbuhan Ekonomi RI Sulit Menembus Angka 5 Persen?

Didik Rachbini menjelaskan bahwa pertumbuhan yang stagnan di kisaran 5 persen merupakan indikasi bahwa struktur ekonomi kita masih belum cukup kuat untuk memacu produktivitas secara masif. Ada beberapa faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa akselerasi ekonomi sulit terjadi.

Ketergantungan Tinggi pada Sektor Komoditas

Salah satu akar masalahnya adalah struktur ekonomi yang masih sangat bergantung pada ekspor komoditas mentah. Ketika harga komoditas global sedang tinggi, ekonomi Indonesia akan terlihat sangat bergairah. Namun, ketika harga komoditas dunia mengalami kontraksi, pertumbuhan ekonomi kita ikut melambat. Ketergantungan ini membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi pasar global yang tidak menentu.

Fenomena Deindustrialisasi Prematur

Faktor kedua yang disoroti adalah tren deindustrialisasi prematur. Sektor manufaktur, yang seharusnya menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi negara berkembang, justru mengalami penurunan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Di negara-negara maju atau negara berkembang yang berhasil melompat tinggi seperti Vietnam atau China, sektor manufaktur adalah mesin utama yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menciptakan nilai tambah tinggi.

Di Indonesia, sektor industri pengolahan belum mampu memberikan daya dorong yang signifikan. Hal ini mengakibatkan ekonomi kita lebih banyak digerakkan oleh konsumsi rumah tangga. Meskipun konsumsi merupakan pilar penting, namun jika hanya mengandalkan konsumsi tanpa dibarengi dengan produksi barang dan jasa yang masif, maka pertumbuhan ekonomi akan sulit untuk meledak secara berkelanjutan.

Kualitas Investasi yang Belum Optimal