Hilirisasi: Bukan Sekadar Mengolah Bahan Mentah
Dalam konteks hilirisasi, Didik menekankan bahwa tujuannya bukan hanya mengubah bentuk barang, tetapi meningkatkan kompleksitas teknologi yang terlibat. Jika Indonesia hanya melakukan pengolahan tahap awal (low-end), maka nilai tambah yang didapat tetap kecil. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia bisa masuk ke tahap manufaktur komponen atau produk jadi yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi di pasar internasional.
Menghadapi Tantangan Middle-Income Trap
Jika syarat-syarat di atas tidak segera dipenuhi, Indonesia berisiko besar terjebak dalam middle-income trap. Ini adalah kondisi di mana sebuah negara sudah mencapai tingkat pendapatan menengah tetapi kehilangan daya saing untuk menjadi negara maju. Dalam kondisi ini, upah tenaga kerja mulai naik, namun produktivitas tidak meningkat secepat kenaikan upah, sehingga industri manufaktur pindah ke negara lain yang lebih murah, dan pertumbuhan ekonomi pun mandek.
Membangun Fondasi Ekonomi Masa Depan
Transformasi ekonomi memerlukan keberanian politik (political will) yang besar. Kebijakan yang diambil harus bersifat jangka panjang dan tidak hanya mengejar target pertumbuhan jangka pendek demi kepentingan elektoral. Pembangunan infrastruktur yang selama ini masif dilakukan harus mulai diarahkan untuk mendukung konektivitas industri, bukan sekadar membangun jalan atau pelabuhan tanpa ekosistem ekonomi yang jelas di sekitarnya.
Selain itu, integrasi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat krusial. Kebijakan fiskal harus diarahkan pada penguatan kapasitas produksi nasional melalui insentif pajak bagi industri strategis, sementara kebijakan moneter harus mampu menjaga stabilitas harga namun tetap mendukung akses pembiayaan bagi sektor produktif.
Kesimpulan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5 persen adalah sebuah pencapaian dalam hal stabilitas, namun merupakan sebuah alarm dalam hal ambisi jangka panjang. Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh di atas 6 persen, namun hal tersebut tidak akan terjadi secara organik tanpa adanya intervensi kebijakan yang kuat. Syarat utamanya adalah melakukan transformasi dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis manufaktur dan nilai tambah tinggi. Dengan memperkuat hilirisasi, meningkatkan kualitas SDM, dan merevitalisasi sektor industri, Indonesia memiliki peluang nyata untuk melompat tinggi dan mewujudkan cita-cita menjadi kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045.