DWJ Manajement - PORTAL

Fakta Terbaru dari Bos BI, Ternyata 1 dari 4 Orang di RI Pakai QRIS

Oleh: DWJ-Manajement • 24 Sep 2026
Fakta Terbaru dari Bos BI, Ternyata 1 dari 4 Orang di RI Pakai QRIS

Masalah keamanan siber seperti phishing, manipulasi kode QR, hingga penyalahgunaan data pribadi menjadi perhatian utama. Masyarakat perlu terus diedukasi agar tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga paham cara melindungi aset finansial mereka di ruang digital.

Keamanan Transaksi dan Perlindungan Konsumen

Seiring dengan meningkatnya volume transaksi, ancaman terhadap keamanan digital juga ikut berkembang. Regulator perlu memastikan bahwa setiap penyedia jasa pembayaran memiliki standar keamanan yang ketat untuk melindungi dana nasabah. Selain itu, penguatan sistem deteksi dini terhadap transaksi yang mencurigakan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem pembayaran non-tunai.

Pemerataan Literasi Digital di Daerah Terpencil

Walaupun angka 1 dari 4 orang sudah cukup tinggi, masih terdapat kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Tantangan besar bagi pemerintah dan BI adalah memastikan bahwa infrastruktur internet tersedia secara merata dan masyarakat di pelosok memiliki literasi yang cukup untuk menggunakan teknologi ini dengan bijak. Tanpa pemerataan ini, manfaat ekonomi digital dikhawatirkan hanya akan dinikmati oleh masyarakat di kota-kota besar saja.

Masa Depan Pembayaran Digital: Ekspansi ke Ranah Internasional

Langkah Bank Indonesia tidak berhenti pada penguatan domestik saja. Menyadari potensi ekonomi yang sangat besar, BI terus mendorong pengembangan QRIS Cross-Border atau QRIS antarnegara. Saat ini, integrasi pembayaran digital melalui QRIS telah mulai diimplementasikan dengan beberapa negara di kawasan ASEAN.

Inovasi ini memungkinkan wisatawan Indonesia untuk bertransaksi di luar negeri hanya dengan memindai kode QR yang tersedia di negara tujuan, menggunakan aplikasi bank atau dompet digital yang sama. Hal ini tidak hanya mempermudah perjalanan wisata, tetapi juga memperkuat integrasi ekonomi regional dan mendukung pertumbuhan sektor pariwisata antarnegara.

Dengan adanya QRIS Cross-Border, ketergantungan terhadap mata uang asing tertentu dalam transaksi ritel dapat dikurangi, dan efisiensi biaya konversi mata uang bagi wisatawan dapat ditekan secara signifikan.

Kesimpulan

Fakta bahwa 67 juta orang atau 1 dari 4 warga Indonesia telah menggunakan QRIS merupakan bukti nyata bahwa Indonesia tengah berada di jalur yang tepat menuju ekonomi digital yang inklusif. Transformasi ini tidak hanya memberikan kemudahan bagi konsumen, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan UMKM dan modernisasi sistem keuangan nasional.

Namun, keberhasilan jangka panjang dari revolusi digital ini akan sangat bergantung pada kemampuan regulator dalam menjaga keamanan sistem, memperluas infrastruktur internet, dan meningkatkan literasi digital masyarakat. Jika tantangan ini dapat diatasi, maka QRIS akan terus menjadi pilar utama dalam memperkokoh stabilitas sistem pembayaran dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan di masa depan.