DWJ Manajement - PORTAL

Iran-AS Masih Ribut soal Selat Hormuz, Harga Minyak Naik Lagi

Oleh: DWJ-Manajement 12 Aug 2026
Iran-AS Masih Ribut soal Selat Hormuz, Harga Minyak Naik Lagi

Ketegangan Iran-AS di Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Mentah Dunia Meroket

Jakarta - Pasar energi global kembali diguncang oleh ketidakpastian geopolitik yang bersumber dari kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait kendali dan keamanan di Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku pasar, yang berdampak langsung pada lonjakan harga komoditas minyak mentah dunia.

Pada penutupan perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak internasional, mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 1,36 persen. Minyak Brent berhasil ditutup pada level US$ 88,91 per barel. Kenaikan ini mencerminkan adanya "risk premium" atau premi risiko yang kini kembali dibayar oleh pasar akibat potensi gangguan pasokan di jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Selat Hormuz: Urat Nadi Energi yang Terancam

Mengapa ketegangan di Selat Hormuz begitu berdampak pada harga minyak? Jawabannya terletak pada peran krusial selat tersebut sebagai salah satu "chokepoint" atau titik penyempitan jalur perdagangan energi paling vital di planet ini. Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini merupakan jalur utama bagi pengiriman minyak mentah dari negara-negara produsen besar di Timur Tengah menuju pasar Asia dan Eropa.

Para ahli energi menyebutkan bahwa sebagian besar pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya. Jika terjadi eskalasi konflik militer atau blokade oleh pihak-pihak yang bertikai, aliran minyak dunia akan mengalami hambatan besar yang dapat memicu krisis energi global secara instan. Hal inilah yang membuat setiap pernyataan provokatif atau pergerakan militer di sekitar Selat Hormuz langsung direspon oleh pasar dengan kenaikan harga minyak.

Beberapa faktor yang membuat posisi Selat Hormuz sangat rentan meliputi:

Geopolitik yang Fluktuatif: Perseteruan panjang antara Iran dan AS seringkali melibatkan aksi saling ancam terkait sanksi ekonomi dan kehadiran militer di perairan tersebut.

Kapasitas Aliran yang Terbatas: Sebagai jalur sempit, tidak ada jalur alternatif yang memiliki kapasitas serupa untuk menggantikan volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz.