DWJ Manajement - PORTAL

Iran-AS Masih Ribut soal Selat Hormuz, Harga Minyak Naik Lagi

Oleh: DWJ-Manajement 12 Aug 2026
Iran-AS Masih Ribut soal Selat Hormuz, Harga Minyak Naik Lagi

Risiko Gangguan Navigasi: Ketegangan militer meningkatkan risiko penangkapan kapal tanker atau sabotase di jalur pelayaran, yang secara otomatis akan memicu kepanikan pasar.

Dinamika Hubungan Iran dan Amerika Serikat

Ketegangan terbaru ini dipicu oleh dinamika diplomasi dan militer yang semakin memanas antara Teheran dan Washington. Iran secara konsisten menyatakan bahwa mereka memiliki hak penuh untuk mengawasi dan mengontrol perairan di Selat Hormuz, terutama sebagai respons terhadap sanksi ekonomi berat yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat.

Di sisi lain, Amerika Serikat melalui armada angkatan lautnya terus berupaya menjamin kebebasan navigasi internasional di kawasan tersebut. AS memandang bahwa setiap upaya untuk menghambat arus perdagangan di Selat Hormuz adalah ancaman terhadap stabilitas ekonomi global. Saling lempar pernyataan mengenai sanksi, program nuklir Iran, dan kehadiran militer AS di Timur Tengah menciptakan suasana ketidakpastian yang sulit diprediksi oleh para analis pasar.

Kondisi ini diperparah dengan situasi politik internal di kedua negara yang seringkali menggunakan isu luar negeri untuk memperkuat posisi domestik. Akibatnya, resolusi diplomatik tampak semakin menjauh, sementara ketegangan di lapangan justru semakin nyata.

Dampak Ekonomi Global dan Inflasi

Kenaikan harga minyak Brent ke level US$ 88,91 per barel bukan sekadar angka di layar perdagangan. Lonjakan ini memiliki efek domino yang luas terhadap perekonomian global. Minyak adalah komoditas dasar yang menjadi penggerak utama biaya logistik, transportasi, dan produksi berbagai barang industri.

Ketika harga minyak mentah naik, harga bahan bakar di tingkat konsumen (seperti bensin dan solar) cenderung akan mengikuti. Hal ini secara langsung akan berdampak pada: