Ketidakpastian Global: Geopolitik dunia yang tidak menentu menciptakan volatilitas pada arus modal keluar-masuk, yang pada akhirnya menekan stabilitas nilai tukar Rupiah.
Destry menekankan bahwa Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendirian. Ia menggarisbawahi pentingnya sinergi antara kebijakan moneter yang dijalankan BI dengan kebijakan fiskal yang dikelola oleh pemerintah. Tanpa koordinasi yang harmonis, upaya untuk mengoptimalkan siklus ekonomi akan menemui jalan buntu.
Menghadapi Tekanan Eksternal dan Volatilitas Global
Selain persoalan domestik, Destry juga menyoroti betapa beratnya medan yang harus dihadapi oleh otoritas moneter dalam waktu dekat. Ketidakpastian arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), serta dinamika ekonomi di Tiongkok, merupakan variabel eksternal yang sulit dikendalikan namun berdampak masif terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Fluktuasi nilai tukar Rupiah seringkali menjadi ujian bagi kredibilitas kebijakan moneter. Dalam sesi fit and proper test tersebut, Destry menjelaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar bukan sekadar soal menjaga angka, melainkan soal menjaga kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Jika kepercayaan ini goyah, maka aliran modal asing akan keluar secara masif (capital outflow), yang pada gilirannya dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.
Peran Strategis Bank Indonesia di Masa Depan
Menjadi Gubernur Bank Indonesia bukan sekadar mengelola suku bunga. Destry Damayanti dalam pemaparannya memberikan gambaran mengenai transformasi peran BI yang semakin kompleks di era digital. Ia melihat bahwa tantangan ke depan tidak hanya bersifat moneter klasik, tetapi juga mencakup penguatan sistem pembayaran digital dan stabilitas sistem keuangan di tengah disrupsi teknologi.
Ada tiga pilar utama yang menjadi fokus jika Destry diberikan amanah untuk memimpin Bank Indonesia secara definitif:
1. Penguatan Stabilitas Moneter dan Nilai Tukar
BI harus tetap menjadi jangkar stabilitas melalui kebijakan yang pro-stabilitas namun tetap mendukung pertumbuhan ekonomi. Destry berpendapat bahwa kebijakan moneter harus bersifat fleksibel namun tetap memiliki arah yang jelas (forward guidance) agar pasar dapat melakukan ekspektasi dengan baik.