Setelah simulasi selesai dilaksanakan, tahap yang paling menentukan adalah proses evaluasi. Seluruh tim yang terlibat akan melakukan debriefing untuk mengidentifikasi celah atau kekurangan yang ditemukan selama latihan. Hal ini mencakup evaluasi terhadap:
Kecepatan Respon: Apakah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi kejadian sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan?
Efektivitas Alat: Apakah seluruh peralatan teknis, seperti pompa pemadam, alat komunikasi, dan kendaraan evakuasi, berfungsi secara optimal?
Ketepatan Komunikasi: Apakah instruksi yang diberikan melalui radio atau alat komunikasi lainnya dapat dipahami dengan jelas tanpa distorsi?
Ketepatan Prosedur: Apakah langkah-langkah yang diambil oleh petugas di lapangan sudah sesuai dengan SOP yang berlaku?
Hasil dari evaluasi ini nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar untuk melakukan pemutakhiran terhadap dokumen Airport Emergency Plan (AEP). Dengan demikian, prosedur penanggulangan darurat di Bandara APT Pranoto akan selalu relevan dengan perkembangan tantangan dan risiko di masa depan.
Kesimpulan
Pelatihan penanggulangan keadaan darurat yang diselenggarakan oleh UPBU Kelas I APT Pranoto Samarinda merupakan langkah strategis dalam memperkuat pilar keselamatan penerbangan. Melalui simulasi yang melibatkan berbagai instansi terkait, bandara ini memastikan bahwa kesiapan personel, kecanggihan peralatan, dan efektivitas prosedur koordinasi telah teruji secara nyata.
Komitmen Kementerian Perhubungan dalam mengawal standar keselamatan di Bandara APT Pranoto tidak hanya bertujuan untuk memenuhi regulasi, tetapi juga untuk memberikan jaminan rasa aman bagi seluruh pengguna jasa bandara. Dengan mitigasi risiko yang terencana dan teruji, risiko dampak fatal dari kecelakaan penerbangan dapat diminimalisir secara signifikan.