Pernyataan Komeng tersebut merefleksikan keresahan banyak pihak mengenai fenomena "gap" atau celah antara kebijakan pusat dengan realita di daerah. Dalam program berskala nasional seperti MBG, risiko terjadinya penyimpangan sangatlah besar. Ada beberapa faktor utama mengapa implementasi seringkali menjadi titik lemah dari program pemerintah:
Masalah Logistik dan Distribusi: Mengirimkan makanan bergizi ke pelosok negeri dengan kondisi geografis Indonesia yang menantang memerlukan manajemen rantai pasok yang sangat rapi agar makanan tetap layak konsumsi saat sampai ke tangan penerima.
Potensi Kebocoran Anggaran: Dengan alokasi dana yang sangat besar, program ini rawan menjadi sasaran empuk praktik korupsi, mulai dari pengadaan bahan baku hingga pemotongan anggaran di tingkat lokal.
Kontrol Kualitas (Quality Control): Memastikan setiap porsi makanan memiliki standar gizi yang sama di setiap wilayah merupakan tantangan yang sangat berat bagi pengawas di lapangan.
Integritas Aparatur: Seperti yang disinggung oleh Komeng, kinerja para pelaksana di tingkat bawah seringkali tidak selaras dengan visi besar yang telah ditetapkan oleh Presiden.
Tantangan Besar Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program Makan Bergizi Gratis bukanlah perkara mudah. Ini bukan sekadar memberikan makanan kepada anak-anak, melainkan sebuah gerakan transformasi kesehatan nasional. Pemerintah harus memastikan bahwa bahan baku yang digunakan berasal dari petani dan peternak lokal untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Jika program ini dijalankan dengan benar, maka ekonomi desa akan tumbuh. Petani lokal akan memiliki pasar tetap, peternak telur akan terserap hasilnya, dan UMKM di sekitar sekolah akan ikut bergerak. Namun, jika yang "bekerja nggak bener" sebagaimana kata Komeng, maka potensi ekonomi ini bisa hilang akibat permainan tengkulak atau monopoli oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.