Waktu Tempuh yang Terbuang: Pejalan kaki yang berniat menggunakan JPO untuk menghindari kemacetan di level jalan raya justru harus memutar jauh karena jalur yang tidak tersambung.
Risiko Keselamatan: Karena jalur JPO tidak efisien, banyak pejalan kaki yang akhirnya memilih menyeberang langsung di jalan raya, yang tentunya meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Ketidaknyamanan bagi Disabilitas: Infrastruktur yang tidak terintegrasi sangat menyulitkan kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas yang sangat bergantung pada jalur pedestrian yang mulus dan berkelanjutan.
Kebingungan Navigasi: Bagi pengguna baru atau wisatawan, keberadaan dua jembatan yang tampak serupa namun tidak saling terhubung ini menciptakan kebingungan arah saat hendak menuju titik transit tertentu.
Pentingnya Konsep Seamless Connectivity dalam TOD
Dalam perencanaan kota modern, terutama di kota-kota besar dunia, terdapat konsep yang disebut dengan Transit-Oriented Development (TOD). Konsep ini menekankan pada pengembangan kawasan yang terintegrasi secara erat dengan sistem transportasi massal. Salah satu kunci keberhasilan TOD adalah seamless connectivity atau konektivitas tanpa hambatan.
Konektivitas yang "mulus" berarti seorang penumpang dapat berpindah dari satu moda ke moda lain, atau dari moda ke gedung perkantoran, tanpa harus mengalami hambatan fisik yang berarti. Jembatan penyeberangan seharusnya berfungsi sebagai "benang merah" yang menyambungkan titik-titik aktivitas manusia.
Kasus di Rasuna Said ini menunjukkan adanya celah dalam koordinasi pembangunan. Seringkali, pembangunan infrastruktur dilakukan oleh instansi yang berbeda—misalnya antara pemerintah pusat yang mengelola LRT dengan pemerintah daerah yang mengelola trotoar dan JPO. Jika tidak ada sinkronisasi desain dan fungsi di awal, maka hasil akhirnya akan menjadi infrastruktur yang berdiri sendiri-sendiri tanpa memberikan manfaat maksimal bagi publik.
Kritik Terhadap Perencanaan Tata Kota