Pembangunan Infrastruktur di Wilayah 3T: BUMN konstruksi dan energi harus tetap konsisten menjalankan penugasan pembangunan di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal demi konektivitas nasional.
Ketahanan Pangan dan Energi: Melalui perusahaan pangan dan energi, BUMN wajib memastikan ketersediaan komoditas pokok dengan harga yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Akses Layanan Dasar: BUMN di sektor perbankan dan telekomunikasi harus terus memperluas jangkauan layanan digital dan keuangan hingga ke pelosok desa guna mendorong inklusi keuangan.
Menjawab Tantangan Global melalui ESG dan Keberlanjutan
Selain aspek sosial, Eddy Soeparno juga menyoroti pentingnya BUMN untuk beradaptasi dengan tren global terkait isu perubahan iklim dan keberlanjutan. Di era modern ini, keberhasilan sebuah entitas bisnis sangat bergantung pada bagaimana mereka mengelola dampak lingkungan melalui prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Transformasi BUMN harus mencakup integrasi praktik ramah lingkungan ke dalam model bisnis inti. BUMN tidak boleh hanya menjadi penonton dalam transisi energi hijau, tetapi harus menjadi pemimpin dalam pengembangan energi terbarukan dan teknologi rendah karbon. Hal ini bukan sekadar untuk memenuhi standar regulasi internasional, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap generasi mendatang.
Mengapa Lingkungan Menjadi Prioritas Baru bagi BUMN?
Ada beberapa alasan mengapa aspek lingkungan harus menjadi bagian integral dari transformasi BUMN:
Mitigasi Risiko Perubahan Iklim: Mengingat banyak BUMN bergerak di sektor ekstraktif dan energi, transisi menuju bisnis yang lebih hijau adalah kunci untuk menghindari risiko jangka panjang.
Daya Saing Internasional: Produk dan layanan BUMN harus memenuhi standar lingkungan global agar dapat bersaing di pasar internasional yang kini sangat ketat terhadap isu keberlanjutan.