DWJ Manajement - PORTAL

Jelang Puncak El Nino, Indonesia Bakal Makin Kering

Oleh: DWJ-Manajement 12 Aug 2026
Jelang Puncak El Nino, Indonesia Bakal Makin Kering

Salah satu dampak paling mengkhawatirkan dari mendekatnya puncak El Nino adalah meningkatnya risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ketika tanah dan vegetasi kehilangan kelembapan akibat minimnya hujan, kondisi lingkungan menjadi sangat mudah terbakar. Percikan api kecil saja dapat memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan.

BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa kondisi lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan akan menjadi sangat rentan. Lahan gambut yang mengering bertindak seperti bahan bakar raksasa; sekali terbakar, api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan sangat sulit untuk dipadamkan.

Risiko ini tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan dan hilangnya biodiversitas, tetapi juga pada kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dapat menyebar ke wilayah lain, menyebabkan gangguan pernapasan (ISPA) akut, dan mengganggu aktivitas ekonomi serta penerbangan.

Faktor Pemicu Karhutla di Musim El Nino

Beberapa faktor yang memperparah risiko kebakaran selama puncak El Nino antara lain:

Suhu Udara yang Tinggi: Meningkatkan penguapan air dari tanah dan tanaman secara cepat.

Kelembapan Udara Rendah: Udara yang kering membuat material organik seperti daun kering menjadi sangat mudah tersulut api.

Aktivitas Manusia: Pembukaan lahan dengan cara membakar seringkali menjadi penyebab utama yang diperparah oleh kondisi cuaca ekstrem.

Dampak Domino Terhadap Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Selain masalah air dan api, ancaman nyata lainnya adalah krisis pangan. Sektor pertanian adalah sektor yang paling sensitif terhadap perubahan pola curah hujan. Petani di berbagai daerah kini mulai merasakan kecemasan akan gagal panen atau yang biasa disebut dengan puso.

Kekurangan air akan sangat berdampak pada lahan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada datangnya musim hujan. Jika musim kemarau berlangsung lebih lama dan lebih panas dari biasanya, maka siklus tanam akan terganggu. Hal ini dapat menyebabkan penurunan produksi gabah nasional, yang pada akhirnya akan memicu kenaikan harga pangan di pasar domestik.

Kenaikan harga pangan tidak hanya akan membebani daya beli masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan angka kemiskinan dan kerawanan pangan di tingkat rumah tangga. Oleh karena itu, sinkronisasi antara data BMKG dan kebijakan pemerintah di sektor pertanian menjadi sangat krusial saat ini.

Ancaman Terhadap Cadangan Air Bersih